Selasa, 05 April 2016

Menyelusuri Kenangan



Lama aku tak menengok blok ini, akhirnya setelah sekian lama kumulai lagi menyusun huruf-huruf merangkai kata menjadi kalimat yang tak berarti.
Kumulai dengan ucapan syukur tiada tara….Allah telah memberi semua kebaikan kepadaku, tangis, penyesalan smua kecewa…rasanya hanya munafik dari diriku. Aku selalu lupa menyadari karunia Allah yang luas tak terhingga. Banyak nikmat yang tercurah, yang harus aku lebih syukuri.
Kumulai lagi tulisanku dengan perjalananku ke Kabupaten Bulungan awal Maret lalu. Sudah 2 tahun aku tak kesini, tak banyak berubah tapi ada yang berubah. Sepanjang tepian sungai Kayan menjadi cantik, enak untuk dibuat jogging. Dua tahun lalu tak pernah terbayang olehku, untuk berjalan-jalan disepanjang tepian sungai ini. Dalam ingatanku sepanjang tepian sungai ini hanyalah tanah becek jika hujan. Tapi sekarang menjadi taman dengan jogging track yang panjang, bunga-bunga dan lampu-lampu hias yang indah.
Sengaja aku jalan kaki menyelusuri sepanjang tepian sungai ini sore itu, hari itu memang panas terik, tapi senja di tepian sungai Kayan sangat indah. Dari balik pepohonan dibelakang pulau yang memisahkan sungai ini menjadi dua, matahari mulai tenggelam, sinarnya kekuningan terpancar diatas air sungai, terpendar dalam langit yang biru bersih. Sesekali mesin speed memecah keheningan air sungai. Teringat suatu masa dimana aku harus datang disalah satu desa dipulau itu. Desa dengan kedamaian, terbentang pohon jeruk yang manis dan keramahan penduduk desanya yang luar bisa. Disisi lain dari pulau itu, ada desa dengan budaya lokal yang masih kental. Ah….itu masa-masa aku masih kurus dan hitam tapi menyenangkan.
Kembali ketaman ini, tanam ini dimulai dari tugu cinta damai dan sepertinya menjadi maskot kota ini, baguslah sebuah pesan perdamaian untuk sebuah daerah yang multi etnis. Taman milik semua kalangan dari orang tua yang punya penyakit rematik dan suka berjalan dijalan batu-batu atau orang dewasa suka bersepada maupun anak-anak suka bermain jungkit.
Setelah beberapa tahun lalu menjadi ibu kota provinsi Kalimantan Utara, sedikit ada pembanguan. Tapi satu kata sepi masih terasa. Jauh lebih ramai kota Tarakan dibandingkan kota ini. Maklum dari sebelum pemekaran pembanguan dan perekonomian kota Tarakan lebih maju. Bekas kerusuhan karena masalah pilkada gubernur beberapa bulan lalu juga sudah tak terlihat. Kantor gubernur yang pernah dibakar masa sudah rapi. Sedikit beda dibelakang kantor gubernur terlihat gedung menjulang yang belum jadi. Mungkin buat perkantoran yang baru. Tempat penyebrangan klotok untuk ke kecamatan Tanjung Palas juga telah dibangun bagus, beda dengan 3 tahun yang lalu. Saat kami berfoto disitu.
Kota ini menyimpan banyak kenangan buatku. Es oyen didepan hotel tunas dulu menjadi favorit jikala panas. Dan yang selalu tak terlupa dari kota ini adalah ikan rebus di warung pujasera. Dulu ikan rebus menjadi menu tiap malam. Pasar sore masih seperti dulu, deretan toko-toko yang dulu tak pernah berubah. Sepanjang jalan diperkantoran masih seperti dulu, saat aku mengulangi menyusuri sepanjang jalan itu seperti dulu.
Cerita dan kenangan di kota ini akan selalu tersimpan dalam ingatan. Pahit, manis, indah dan lelah menjadi bagian dari  kisah perjalanan dikota ini. Entah kapan lagi ada kesempatan dan umur untuk datang lagi ke kota ini walapun hanya sekedar untuk mengenang. Suatu hari pasti akan ada rasa kangen itu. Akan kutulis guratan cerita dalam hati tentang sepenggal perjalanan yang luar biasa.

Senin, 12 Maret 2012

Cerita dari Kampung diatas Rawa

Pagi ini sedikit mendung, tapi tak hujan. Kami telah tiba di pelabuhan kecil dipinggir Sungai Meriam. Menelusuri sungai yang panjang seakan tak berujung. Lambaian daun nipah dipinggir sungai seakan menyambut atau bahkan mereka sebenarnya muak melihat tongkang batubara yang setiap hari hilir mudik dengan angkuh. Ini sebuah ketidak adilan, puluhan tongkang tiap hari membawa batu bara melalui sungai sedangkan sepanjang jalan di Kaltim hancur tak tertambal.
Mulutku hanya bisa diam, tersumpal dengan rasa kekaguman yang luar biasa atas karunia Tuhan, atas sungai yang elok, pohon yang indah, dan orang-orang yang tercipta luar biasa, yang mau dan mampu tinggal jauh diatas gemuruh air. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa memikirkan kata-kata yang bisa kurangkai untuk mengungkapkan semua ini. Deretan pipa-pipa gas tersambung sampai lepas pantai. Sesekali speed boat hilir mudik memecah riak sungai, puluhan tongkang  kosong berjajar rapi.
Tak pernah terbayang diujung sungai nanti ada kampung yang ramai seperti kota diatas air. Tapi ini nyata, keterbatasan tak terlihat, rumah-rumah diatas rawa berjajar melingkari jalan ulin yang licin karena gerimis dan berjajar rapat. Toko-toko kelontong, toko baju sampai toko peralatan bangunan lengkap sudah ada yang jual, tabung gas, sampai kulkas dan alat listrik lainnya ada yang punya, entah kapan mereka bisa menggunakannya kalau listrik hidupnya dari Magrib sampai jam 7 pagi. Kami sampai di kampung ini beberapa saat sebelum sholat Jum`at. Kampung ini cukup agamis, hari Jum`at mereka libur tidak mencari ikan. Anak sudah pulang sekolah, sudah ada sekolah dasar sampai SMP. Syukurlah setidaknya anak-anak kampung ini biarpun jauh dari daratan kota masih bisa mengenal namanya sekolah.
Tuan rumah yang kami datangi sangat baik dan ramah, orang bugis kelihatannya. Kami dimasakkan berbagai masakan khas penduduk pinggir sungai, kepiting saos, udang goreng, ikan bakar dan kerupuk udang bikinan sendiri. Ibu yang punya rumah banyak bercerita tentang anak-anaknya (yang paling bontot kembar) dan kehidupan warga kampung. Warga kampung sebagian besar adalah nelayan dan petani tambak, yang unik kebiasaan janda-janda di kampong ini, setiap habis subuh sampai petang mereka menyelusuri sungai hanya untuk memacing ikan, udang, kepiting dan mencari getah damar. Saat aku ijin ke belakang untuk pipis, ibu yang punya rumah, “Ibu kami belum punya WC, begini seadaanya”, tapi yang membuat aku terkejut biar tidak punya WC tapi punya mesin cuci dan Happy Pan yang selama ini hanya pernah aku lihat dari iklan ditv lokal. Ah……ini karena sudah maju atau termakan kemajuan jaman yang semakin edan.
Kampung ini bersebelahan dengan perusahaan besar yang mengebor gas dari lepas pantai, tapi tak banyak yang mereka rasakan dengan adanya perusahaan ini. Sebagian besar penduduknya tetap menjadi petani tambak dan nelayan yang menggantungkan hidupnya pada hasil tangkapan ikan, malah mereka mengeluhkan air sungai yang semakin pekat sehingga panen udang mereka tak tentu. Kalau saat ini ada listrik itu karena adanya fasilitas PNPM dan sekali lagi hidupnya pun cuma dari Magrib sampai jam 7 pagi.
Saat pulang, kami melewati jalur yang berbeda. Kami menyelusurin sungai Sepatin yang kanan kirinya tambak yang telah hancur. Diujung sungai berjajar kapal-kapal ikan dimana mereka membawa keluarganya hidup dikapal juga. Aku benar-benar melihat dari dekat kehidupan mereka, dari memasak, cucian tidur mereka lakukan dalam kapal. Hanya Mushola mereka yang terlihat didarat. Selama ini yang pernah aku tahu hanya suku Bajau di Sulawesi yang hidup dikapal, ternyata orang-orang Kutai ada juga yang hidup di atas kapal.
Air mulai pasang saat speed kami mulai meninggalkan sungai Sepatin, gelombang mulai tinggi, hantaman air membuat speed tergoncang-goncang. Biarpun badan sakit, tapi inilah hidup yang lebih berwarna.

Sepatin, Jum`at, 9 Maret 2010

Jumat, 24 Februari 2012

CINTA DAN WAKTU


Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik membasahi kakinya.
Tak lama CINTA melihat kekayaan sedang mengayuh perahu, Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!, teriak CINTA Aduh! Maaf, CINTA!, kata kekayaan Aku tak dapat membawamu serta nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini. Lalu kekayaan cepat-cepat pergi mengayuh perahunya. CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. Kegembiraan! Tolong aku!, teriak CINTA. Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak dapat mendengar teriakan CINTA. Air semakin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik.
Tak lama lewatlah kecantikan Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!, teriak CINTA Wah, CINTA kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu pergi. Nanti kau mengotori perahuku yang indah ini, sahut kecantikan. CINTA sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat kesedihan. Oh kesedihan, bawalah aku bersamamu!, kata CINTA. Maaf CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja.., kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa.

Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara. CINTA! Mari cepat naik ke perahuku! CINTA menoleh ke arah suara itu dan cepat-cepat naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, CINTA turun dan perahu itu langsung pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang menolongnya. CINTA segera bertanya pada penduduk pulau itu.Yang tadi adalah WAKTU, kata penduduk itu. Tapi, mengapa ia menyelamatkan aku? Aku tidak mengenalinya. Bahkan teman-temanku yang mengenalku pun enggan menolong tanya CINTA heran.

Sebab HANYA WAKTULAH YANG TAHU BERAPA NILAI SESUNGGUHNYA DARI CINTA ITU

SEPENGGAL KISAH DARI MUARA SUNGAI

Pagi ini aku sudah siap jam 6 pagi, hanya satu harapan semoga cuaca cerah tidak hujan. Persiapan yang bribet bikin demun smua orang, perjalanan 2 jam dengan mobil menyelusuri jalan penuh lubang diantara kanan kiri kubangan tambang dan gunung yang telah habis digerus, sungguh pemandangan yang sangat ironis….
Muara Jawa………..
Speed mulai menyelusuri sungai panjang perlahan-lahan meninggalkan pelabuhan, lama kelamaan semakin cepat dengan hentakan-hantakan yang membuat jantung berdebar. Aku sangat menikmati pagi ini birunya langit, riak-riak sungai hembusan angin, air sungai yang amis dan lambaian daun nipah, menyertai sepanjang perjalanan. Speed mulai masuk ke anak sungai kecil dengan pelan-pelan. Aku berpikir inikah kehidupan orang di pinggiran sungai yang jauh dari peradaban darat apalagi kota….. jikalau speed sampai kenapa-napa kadas, karam atau kebalik sejam kemudian mungkin baru ada orang yang tahu, tanpa ada pengaman yang standar (pelampun dan alat komunikasi) meraka biasa hilir mudik menyelusuri sungai2 ini yang seakan tak berujung dengan tenang. Belum lagi kalo ada buaya di rawa, ah…..ku tepis smua angan burukku, aku pasrah sama Allah apa yang akan terjadi nanti, yang penting ini asik juga untuk dinikmati.
Perjalanan yang lumayan panjang satu jam lebih diatas speed, sampai juga disebuah perkampungan terapung hanya 30 kk dalam satu RT, dengan kehidupan yang sederhana bergantung dari hasil tangkapan ikan dan tambak mereka bertahan hidup. Kanan kiri depan semua air. Satu yang membuat aku penasaran bagaimana mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya, ini bukan bukan masalah uang tapi jauhnya sekolah yang harus mereka jangkau tanpa ada jalan darat atau kendaraan umum, satu-satunya kendaraan untuk transportasi mereka hanya speed, untuk mencapai kota kecamatan sekali jalan bolak-balik minimal Rp. 300.000,- untuk biaya beli bahan bakar. 
Gubrak…….
Duh Gusti….ini sangat tak adil bagi mereka. Tapi apa daya mereka masyarakat pesisir yang termajinalkan oleh isolir dan ketidak perdulian dari elit politik yang dengan enak mengendarai mobil mewah dan hanya mau menyelusuri jalan-jalan mulus ibukota. Biarpun katanya pro rakyat tapi semua itu hanya sebuah kalimat manis yang diagapnya sebagai hiburan atau penghibur yang sebenarnya rakyat tidak butuh itu, mereka hanya mengingikan semua nyata. 


Muara Jawa, Desa Muara Kembang Dusun Muara Ulu Besar 23 Februari 2012

Sabtu, 14 Januari 2012

Setahun

Tuhan….
Aku lupa….
Atau entah melupakan…..

Tak terasa sudah setahun….
Rasanya belum lama
Baru kemarin
Aku mempuyai jiwa baru
Hidup baru
Dan nyawa ini masih tersimpan diraga

Tuhan…..
Tak peduli apa mauku dulu
Ternyata nyawa ini lebih berharga
Dari segala rasa dan asa

Tuhan….
Aku…..
Tak perlu kesuksesan
Kesehatan itu perlu
Tak perlu sanjungan
Hanya kemudahan yang kumau

Tuhan….
Aku tak peduli akan hinaan
Hanya harapan yang terbentang
Aku tak takut lagi akan malam
Karena masih banyak yang tersayang

Tuhan…
Ampuni aku
Butiran air mata ini mengingatkanku
Akan sebuah karuniMu
Keagungan dan kuasaMu

Tuhan....
Aku sudah takmau
Cukup sudah yang lalu

Tuhan….
Ampuni aku
Dulu…..
Terlalu banyak mauku
Terlalu hina tingkahku
Terlalu lancang lidahku
Mungkin Engkau muak melihatku
Karena aku tak mau mengerti
Padahal Engkau selalu ada
Melihat
Mendengar
Mungkin aku terlalu tak sabar menunggu
Waktu indah yang telah Kau gariskan

Tuhan…….
Aku berucap syukur kepadaMu
Dengan sepenggal nafas…..

Samarinda, 14 Januari 2012

Kamis, 10 Februari 2011

Hari Ini

Akhirnya pagi ini datang juga dan aku harus pulang untuk kesekian kalinya. Ada rasa sedih dan lega dihatiku, mungkin ini sudah jalan Tuhan untuk ku. Kalu tidak begini mungkin aku tak kan pernah berani, hikmah dari semua ini.

Tak kuasa aku menahan air mata. Dulu hal ini yang aku harapkan, tapi aku tak pernah berani. Sekarang Tuhan telah membukakan jalan biarpun berat dan menyakitkan. Bagaimanapun disini tertinggal sedikit kenangan, banyak orang - orang yang aku tinggalkan baik suka maupun tidak.
Ada cerita menjadi nostalgia yang patut dikenang nati, entah kapan.

Tak terasa sudah 3 tahun, 13 Februari, 3 tahun lalu aku kesini untuk sebuah harapan dan harapan itu masih ada sampai kini, hanya ,asih tersimpan di hati.

Palangka 11 Februari 2011

Rabu, 02 Februari 2011

Semalam di dr. Moewardi

Tekatku sudah bulat, aku pasrah apapun yang terjadi. Doaku “aku kembalikan jiwa dan ragaku kepada – Mu ya Allah, aku ada karena kehenda Mu kalaupun aku harus mati itu karena takdirku”.

Perjalanan panjang 2 jam lebih jadi tak terasa, menikmati dingin dan indahnya lembah pegunungan, rasa gugup dan takut sirna. Proses admitrasi yang panjang dan lama jadi membosankan. Saat keputusan diambil, aku tinggal ikut, itu sudah tekatku. Ini pengalaman pertama dan terakhir, karena aku tak mau lagi.

Tidur dalam ranjang bangsal rumah sakit, tak pernah terbayang dalam benakku, biarpun sekelas hotel bagiku tak ada yang lebih nyaman dari kamar rumah kami yang dekat kandang sapi itu.

Dimulai dengan satu suntikan. Ini sudah yang ketiga kalinya.  Dan doa dari petugas spiritual.

Tidur malam terasa panjang, ranjang ini semakin tak nyaman. Jam 5 pagi sudah diminta untuk bersiap, mandi dan sholat. Tak lama jarum infuse sudah menancap ditangan, itu tak menjadikanku takut, tapi saat suster membawakan baju hijau, duh… Gusti……rasa tegang mulai menghantui. Mata selalu tertuju pada jam dinding. Akhrinya waktu itu datang juga, ranjang pelan – pelan didorong keluar menyelusuri lorong – lorong panjang. Semua mata seakan tertuju padaku. Entah berapa banyak Ayat Kursi kubaca, sebagian malah tak sampai selesai.
Lama menunggu giliran, membuat telapak kaki dan tangan menjadi dingin, muka sudah pucat. Aku sangat tegang.

“Mbak sakit apa?”
“Sebesar apa?”
“Sudah berapa lama?”
“Tenang ya mbak”
Tanya setiap perawat yang lewat menghiburku. Untung Mbak Esti Komariah yang sekamar dengan ku juga sama – sama mau dioperasi jadi ada teman yang saling menguatkan.

Mbak yang FAM yang mana?

Deg……jantungku berdetak kencang, giliranku tiba. Ranjang mulai didorong masuk dalam ruangan besar mirip lap. di fakultas dulu. Mataku sengaja aku arahkan ke jarum jam dihadapanku tepat jam 08.30 dan aku tak mau lihat – lihat lain yang bikin aku tambah takut. Tiga lampu besar diarahkan ke badan sebelah kanan, kaki kanan diikat, kaki kiri ditempelin alat seperti tensi darah. Tangan kiri ditaruh pada lempengan kayu panjang, ujung jari tengah kanan dijepit seperti jepit baju tak lama terdengar tik tik tik……
Mulut dipasang oksigen.
Ambil napas dalam ya…..
Trus bernapas biasa. Kata perawatnya.

Disebelah kanan suara laki – laki sedang telepon.
“Pasien atas nama Sri Wahyuningsih sudah siap dioperasi”


Tak lama perawat lain bilang, “Dibius ya…. Les……

Mbak….tangi – tangi …….,wis – wis operasine……
Suara perempuan membangunkaku. Mataku masih sulit ku buka, semua remang – remang, tenggorokanku penuh dengan lender. Meski sulit ku paksa membuka mata, disebelah kiri jam dinding di tembok yang kulihat, disebelah kanan sepertinya ada pasien lain yang terbaring, ruangan ini panjang selebihnya aku tak tahu.

Tak ada ibu dan bapak dalam pikiranku kalau lama disini bagaimana aku bisa membuang ledir dalam mulutku, akhirnya kutelan juga.

Tak lama ranjang mulai didorong keluar, badanku terasa ringan, saat didepan pintu ku lihat bapakku berdiri.

Ya Allah, ternyata aku masih hidup, Alhamdulilah…..itu yang ku ucapkan pertama kali.

Rasa lega – plong – sudah dihatiku, biarpun didada kanan terasa sakit.


                        RS. Dr. Moewardi, Solo, 4 Januari 2011

Jumat, 26 November 2010

Kantor Terlalu Sepi

Kantor terlalu sepi begitu yang ingin aku tulis dan aku ungkapkan. Ini sudah tiga tahun, dari lantai 2 ke 4 sampai 3. Sekarang setelah sekian lama ada tiga hari dalam seminggu untuk aku dapat belajar banyak hal khususnya tentang hidup, biarpun dalam hati kadang menolak, tapi aku selalu berusaha untuk mengambil hikmah yang terpendam. Tapi sampai kapan?? Aku hanya bisa berdoa "Tuhan selamatkan aku dari kafir".

Terkadang banyak kertas - kertas yang menumpuk berserakan tak beraturan, tapi kadang lebih rapi dan bersih. Sering kali tragedi tinta yang tumpah kemana - mana. Ah......semua telalu sering sepi dan aku sendiri dini.

Siang mulai beranjak, matahari sudah diatas gedung. sepi tetap tak terpecahkan. Tapi aku akan selalu bersyukur sepi ini membawa ketenangan yang lebih baik.

Kamis, 12 Agustus 2010

RAINBOW

Sebenarnya aku bingungi mau kasih judul apa untuk tulisanku ini dan tidak tau juga kenapa muncul dipikiranku kata "RAINBOW" ..... Pelangi. Yah.....ini mungkin warna - warni kehidupanku seperti warna pelangi yang indah.
******

Kumulai tulisanku dengan suatu cerita, dimana rasa benci bercampur rasa cinta, sehingga tak tahu mana yang lebih dominan. Kadang cinta itu muncul saat kita mengingat suatu perjalanan indah yang sudah lampau, tetapi rasa benci menghapus, saat kita teringat akan penghianatan, itu menyakitkan.
Mungkin mulut ini bisa bohong, saat banyak orang menanyakan hanya kata "Tidak" yang muncul padahal relung hati yang dalam tak terima itu. Rasa kangen masih menghatui, biarpun berusaha untuk melupakan, toh.... hati selalu ingin tahu tentang dia dan tangan tak mau berhenti mencari. Yah.....semua karena cinta yang bisa mengorbankan orang lain. Egoiskah?? Entahlah, sikap dan kesiapan orang berbeda dalam menyikapi masalah, aku tak bisa menghakimi.
******

Dulu aku tak rela kalau dia bersama, bukan karena apa, lebih karena aku sendiri tak yakin dia baik. Tapi setelah kejadian itu aku ingin dia bahagia.
Tuhan.....
Aku tak peduli apa persepsi dia tentang diriku, seburuk apapun akan ku terima. Tapi aku mohon kepada Mu persatukan dan bahagiakan mereka, biarlah aku menjadi bagian yang terbuang dari kisah mereka. Aku tahu Engkau punya jalan lain biarpun semua orang bilang tak mungkin.
Jikalau Kau masih kasih aku waktu bertemu dengan dia, aku hanya berharap dia masih mau menyapaku dan mengingat namaku. Aku tak berharap banyak semua bisa seperti dulu.
Aku akan memendam semuanya dalam hati, mungkin aku bisa membukanya kembali suatu saat untuk ku jadikan pelajaran yang sangat berharga.

Mungkin aku tak bisa mencintai seperti dia bisa mencintai setulus hati, aku hanya percaya pada Mu, Ya Allah.

Rasa hati ingin menghubungi dia biarpun sekedar tanya kabar, tapi aku takut sakit hati jika tanggapan dia tidak baik.

Tuhan.....
Hanya Kau yang tahu isi hatiku, tak ada rasa apa - apa dari semua itu, pamrih pun tidak. Sampai sekarang aku berusaha untuk memahami dia, biarpun aku tak tahu dia seperti itu apa tidak. Aku hanya manusia biasa yang tak bisa memahami isi hatinya. Mungkin semua terlalu menyakitkan dan begitu fatal, aku sendiri tak bisa mengukurnya.
Sebegitu besarkah kesalahanku, sehingga sulit dimaafkan???
Aku sudah berusaha, Engkau tahu itu. Aku tak bisa memaksa dia, seperti kata temenku, aku tak bisa memaksa orang lain mengikuti mauku.

Mungkin semua yang indah dulu tinggal menjadi cerita biarpun aku tak pernah mengharapkan, karena bagiku semua menyedihkan tapi aku hanya berusaha jujur dan berdamai pada diri sendiri.

Harapan terakhirku...... Mungkin aku tak lagi berarti, tapi saat ada orang yang menyebut namaku, dia masih mau bilang "Aku pernah kenal dia......."
Semoga dia baik - baik saja.......

Sabtu, 07 Agustus 2010

Palangka – Jakarta – Ngawi – Surabaya – Palangka

Akhirnya aku kembali kesini, setelah 10 hari perjalanan panjang Palangka – Jakarta – Ngawi – Surabaya – Palangka. Hari – hari terjebak pada escalator yang tak pernah berhenti berjalan dan naik turun lif yang tak mau berdiam. Mobil – mobil yang terus berjalan, rungan yang dibatasi kaca bagiku sangat mewah, saat ku memandang bayangan diriku ada hal yang tak biasa, semua serba otomatis. Beda dengan rumahku yang berantakan sana sini.

Lalu lalang kendaraan membuat kota ini tak pernah mati, kerumunan orang yang selalu berjalan tak saling mengenal. Setiap malam ku duduk dipinggir jendela sambil memandangi gemerlap lampu kota yang membuat kota ini semakin eksotik, jauh beda dengan disini seakan menjadi kota hantu saat kabut turun.

Setiap kali kubuka dorden panjang, kabut tipis turun perlahan dari celah gedung – gedung pencakar langit. Lampu puncak Monas belum mati saat jalan senen raya masih sedikit lengang.

Malas mata ini terbuka, dingin AC yang tak mati menambah nikmat untuk menarik selimut tebal. Kasur busa yang empuk menambah tidurku semakin nyaman, kulupan sebentar kasur tipisku dan sarung batik kesayangan. Tapi deadline waktu mengharuskan bangun pagi, ini bukan pinik gumanku........

Maklum orang kampung kekota terlihat udik biarpun ku coba untuk tidak katrok. Kuingat pengalaman temen yang bingung cari gayung dihotel berbintang. Ah......aku tak sekatrok itu, kalau mau mandi ada shower yang tinggal diputar sesuai selera, air panas atau dingin. Kalau sikat gigi ada gelas yang disediain. Hanya aku sedikit risi dengan WC duduk, biarlah menjadi katrok untuk urusan kencing dan BAB tetap jongok. Toh itu lebih sehat dan tidak ada yang melihat juga.......

Aku beruntung, seharusnya kamar untuk berdua, karena aku datang lebih dulu, aku bisa survei seisi kamar terutama alat – alat dikamar mandi yang tidak pernah kugunakan sebelumnya. Biarpun begitu orang katrok tetap saja terlihat, buka pintu kamarnya tetap minta bantuan clining servise ah........

Jakarta, pertama kali ditawari untuk pergi ku menolak halus dengan alasan yang konyal. Ku akui belum pernah ku ke Jakarta, biarpun selama ini ku melalang buana menyebrang pulau, Jakarta tetap menjadi kota yang yang beda terutama keramaian dan kemacetannya.

Beberapa hari sebelum berangkat aku sudah browsing peta Jakarta dan jalur busway. Tapi beruntung saat tiba dibandara ada saudara yang mau menjemput, sedikit lega perasaan. Sebenarnya itu juga karena kekwatiran ibuku yang berlebihan.

Dari hari pertama jadwal acara seharian, bikin capek tapi dengan mengenal teman – teman dari berbagai daerah sangat luar biasa menjadi pengalaman tersendiri. Kebersamaan yang singkat tapi penuh kesan tentang banyak hal. Berbagi pengalaman, cerita dan motivasi tentunya.

Biar jadwal kegiatan padat, tapi jalan – jalan tetap tak terlewatkan. Beruntung penginapan bersebelahan dengan Mall, tiap malam bisa jalan lihat diskon besar – besaran di Matahari, yang belum pernah ada disini. Atau bosen makan yang aneh – aneh dihotel, disebelah disediakan makanan cepat saji yang sesuai dengan selera perut dan kantong. Terakhir bisa jalan – jalan ke PRJ biar tidak beli apa – apa tapi bisa bawa cerita sebagai oleh – oleh kesini.

Hari ke 5 di Jakarta, saatnya untuk pulang kampung. Sebenarnya aku ingin naik kerta yang belum pernah ku rasakan, pagi – pagi aku nekat ke stasiun Gambir hanya untuk cari tiket, tapi apa mau dikata waktunya pas bebarengan arus balik liburan panjang, ah.....ga dapat, terpaksa harus ikut saudara pulang naik bis.

Jam satu siap untuk berangkat ke Jakarta Selatan, sekalian kesempatan untuk keliling Jakarta, melihat – lihat gedung – gedung yang selama ini hanya kulihat begitu angkuh di TV. Satu jam cukup untuk sampai ke Lebak Bulus, menerobos kemacetan Jakarta yang mengila.

”Gajah Manunggal”, baru sekali ini aku naik bis sebelum berangkat ada ustad yang memimpin doa. Sebuah terobosan services yang sebenarnya biasa tapi menjadi luar biasa.
Sabtu, 10 Juli 2010 jam tujuh pagi sampai di Solo. Biarpun terlambat beberapa jam, perjalanan Jakarta – Solo sangat nyaman. Saat ganti bis ekonomi antar provinsi jadi terasa langit dan bumi rasanya.......

Ah......akhirnya ku bisa melihat rumahku kembali, Alhmdulilah sudah lebih baik. Disambut dengan tawa ibuku, lelah beberapa hari ini sirna seketika. Kebetulan juga tetangga sebelah rumah punya gawe mantu. Gending Jawa dan campursari yang biasa ku dengar di radio saat kangen kampung halaman terdengar meriah. Kampungku yang sejuk selalu membuat kangen hati.

Kamis, 15 Juli 2010. Malam cepat juga berlalu, tak terasa pagi menjelang subuh. Pagi ini harus mengejar bis pagi menuju Surabaya, saatnya kembali kesini.

EVERYTHING GONNA BE OKAY........

Palangka, 15 Juli 2010 



Palangka, 15 Juli 2010

Senin, 21 Juni 2010

Kisah Gadis Yang Tersisip

Arus urbanisasi yang kemudian meluas dalam globalisasi mengucurkan air liur para gadis desa. Melihat teman-teman sebaya yang mudik dengan kulit bersih bebas daki plus dandanan seksi aneka rupa benar-benar bikin hati mulai tergiur. Terbersitlah dengus di dada seorang gadis, “Aku mau seperti mereka!” Tekad baja untuk segera meninggalkan kampung halaman mencuat sedemikian kuat.


Untung pun dapat diraihnya. Hidup baru di tempat baru menggelinding cepat. Dengan sedikit polesan saja, tampang, body, dan gemulainya bikin berkedut mata yang memandang. Tak butuh waktu lama, dompetnya sudah penuh barang baru: kartu tabungan. Dunia terasa indah dirasa. Matanya nanar dalam kesukaan. Sesekali setumpuk uang dikirim untuk ibunya yang sedirian di desa.

Di tengah terang benderang di siang bolong, tiba-tiba petir menyisir hati menjadi getir. Tak tahu mengapa, perasaan itu menusuk sampai di ulu hati. Meski sekian banyak pencapaian dinikmati, tetapi sanubari tak mati. Ada residu yang mengguratkan jeritan untuk menghentikan keadaan bobrok yang bertahun-tahun dialami. Kehidupan baru sebagai seorang pelacur tak menandaskan kebahagiaan sempurna.

Lelehan air mata mulai membual dari sumbernya. Ia sedih, menangis, dan menyesal. Martabatnya serempak menggeliat serasa diinjak-injak. Meski bau harum alami ramuan kraton mengoles kulitnya yang semakin halus mulus, ia tetap merasa terhina. Dalam gumpalan uang yang berserak-serak, batinnya tersiksa. Ia terkulai, lemas, dan kaku.

Di ujung kepedihan mendalam, ia mantap untuk pulang. Setelah kerja malam, ia melangkah kembali ke desanya. Dahulu berangkat dengan riang gembira menukil sejuta harapan, kini pulang dengan kaki gontai penuh gemetaran. Ia menatap pilu halaman rumahnya. Secercah muncul keheranan, lampu depan di beranda masih menyala. “Ada tamu rupanya?” pikirnya. Gagang pintu dipegang, wooow… tak terkunci. Namun, tidak ada tamu yang menyaru. Ia pun langsung mempercepat langkah menuju pintu kamar ibunya.

Pelan-pelan ia ketok-ketok pintu kamar itu. Secepatnya pintu terbuka. Gadis pun bertanya, “Ibu apakah ada tamu?” Jawab ibu dalam kekagetan itu, “Tidak ada tamu kok. Setiap hari memang begitu.”

“Kok pintu gerbang terbuka dan pintu rumah tidak dikunci? Lampu juga tetap bernyala, Bu?” tanyanya dengan nada sedikit tinggi. Ibu itu berkata dengan lembut, “Anakku… Sejak Engkau pergi dari rumah ini, pintu tidak pernah aku kunci. Lampu selalu bernyala pada malam hari. Karena ibu tahu, kapan saja Engkau mau kembali pintu itu tetap terbuka untukmu.

Rumah ini tetap Engkau punya. Ibu tahu bagaimana dirimu di seberang sana. Namun, ibu tetap mencintai Engkau, apapun dan bagaimanapun Engkau. Masuklah anakku… Aku bahagia Engkau pulang!” Mereka kemudian berpelukan erat dan menangis haru.

Posting dari haxims

Senin, 07 Juni 2010

KLEDEK

Tubuhnya gemulai, pinggulnya lenggak – lenggok diatas panggung, sesekali tangannya memainkan selendangnya yang terikat di lehernya. Alunan musik koplo semakin menghentak membuat gerakannya tambah lincah. Biarpun usianya sudah paruh baya tapi gerakannya masih aktraktif tak kalah dengan yang muda. Dandannya menor dengan kemben rendah untuk memikat penonton. Panggil saja namanya JUMINTEN. Umurnya sudah lewat dari setengah abad. Sejak belasan tahun dia sudah disuruh ayahnya untuk “Ngledek”. Sekolahnya tak sampai tamat SD. “Belajar nyinden lebih baik untuk cari uang”, kata ayahnya dulu.

Dimasa kecil dia menjadi tukang ngasak, saat tetangganya panen “telo abang”, diajak ibunya untuk ngasak telo – telo boleng yang tak laku jual. Saat panen padi dia diajak buleknya derep. Juminten anak pertama dari tujuh bersaudara, adik – adiknya tak berbeda jauh usianya.

Dimasa remajanya dia menjadi kledek yang terkenal, parasnya yang ayu membuat dia menjadi kledek yang laris – manis. Dari hasil ngeldeknya dia bisa membeli baju – baju yang bagus, bedak, benges dan perhiasan, yang membuat iri gadis – gadis seusianya di kampung. Dimasa kejayaannya hampir tiap hari ada saja yang mengundangnya, bahkan tak jarang dia diundang pejabat – pejabat kabupaten.

Dari pekerjaan menjadi kledek dia ketemu dengan seorang laki – laki, MARNO namanya, yang berprofesi sebagai tukang kendang. Yang akhirnya mau menikahinya biarpun dia sudah mempunyai seorang anak laki – laki yang tak diketahui ayahnya. Entah apa tujuan Marno mau menikahinya, mungkin karena Juminten memang ayu, atau karena Juminten kaya raya.

Setelah menikah Marno setia menemani kemana Juminten mau tampil. Mobil Suzzuky Carry tahun 89 menjadi kendarahan yang mewah dikampung. Marno menjadi sopir pribadi yang siap mengatar kemana saja Juminten mau pergi, bahkan merangkap sebagai manager pribadi yang saiap mencari job untuk Juminten, bahkan untuk pekerjaan tambahan untuk melayani laki – laki lain.

Stigma kledek sebagai wanita ”penghibur” tak bisa bisa dia tolak, memang dia juga melakoninya. Jauh sebelum dia menikah dengan Marno. Sudah bukan rahasia lagi anak – anak lakinya yang pertama tak diketahui siapa ayahnya, dari desas desus orang – orang dikampung, ayahnya adalah kepala desa kampung sebelah. Rumah gedongnya yang berjajar dua dan berlantai tekel dikasih selingkuhannya yang juragan telo, dan mobil suzzuky carry pemberian seorang pejabat kabupaten.

Saat usianya sudah tak muda lagi dan kledek – kledek muda mulai bermunculan sedikit – demi sedikit pamor mulai turun, tapi dia selalu berusaha agar dia masih tetap laku dan laris. Marno, suaminya mengajaknya kerumah Embah Tro, orang pintar dikampung yang disegani, untuk minta jampi – jampi pelaris dan pemikat. Setiap kali sepi undangan ngledek, Embah Tro menjadi andalan.

**************************
Dulu juminten sudah mendapatkan semuanya, harta, ketenaran & kebahagian duniawi, sekarang tuhan mulai mengambilnya satu persatu. Dia sudah tak selaris dulu, bayaranya juga tak semahal dulu, pamornya kalah dengan kledek – kledek yang masih muda. Jampi Embah Tro juga sudah tak mempan. Anak perempuannya stes karena hamil ditinggal pacarnya, sedang anaknya yang pertama sudah dua tahun masuk penjara karena jadi pengedar narkoba.

Satu gending sudah berlalu, Juminten undur kebelakang panggung sambil menghapus air matanya. Dalam hatinya dia mengadu pada Tuhan yang dulu tak pernah dia kenal, ”Duh Gusti, nyuwun pangapunten, kulo mboten kiat, paringgono kulo kakiatan”.



Palangka, 7 Juni 2010

Selasa, 18 Mei 2010

Yang Tersisa Hanyalah Cerita

Lelah menjadi tak ada artinya saat semua acara telah terlewati dengan baik dan lancar. Rasa plong dan senang saat semua sudah usai, biarpun sebelumnya ada rasa kekuwatiran dan hanya bisa pasrah pada Tuhan.

Penghargaan tak patut diharapkan, melihat orang - orang yang datang antusias dan menikmati, itu sudah jauh dari cukup. Tapi tak kala ucapan terima kasih itu muncul dari tuan rumah, ada rasa dihargai jerih payah kerja kita beberapa hari ini. Sungguh tak dinyana, walau hanya sekedar ucapan terimakasih bisa diucapkan. Masih teringat, saat di bandara beberapa hari lalu, sosok yang arogan jelas terlihat, tanpa senyum ramah seperti hari ini. kami menilai bukan sosok yang friendly, tapi kami bisa memaklumi karena bos.

Kerja ini kerja tim, aku tak bisa sendiri. Tugas ku hanya jaga gawang, tapi aku bisa menikmati. Ada temen baru yang bisa bikin gregetan. Tapi kekeluargaan menjadi motivasi, biarpun harus tidur ngorok sekalipun, semua tetap harus berjalan. Itu hanya sedikit warna dari kerja kita yang singkat ini.

saat kamu tanya, bagaimana jalannya acara???
Aku hanya bisa bilang baik dan bagus, toh juga orang lain bilang seperti itu, biarpun tak nyata.
Sekarang semuanya sudah selesai, tinggal menikmati lelah dari kerja beberapa hari lalu dan yang tersisa dari kerja kita hanyalah cerita, yang tak mungkin bisa ditulis semua.

Terima kasih untuk semua yang telah membantu.

Palangka, 12 Mei 2010

Rabu, 28 April 2010

Rasa Ini

Rasa ini kembali muncul, sebuah perasaan yang sulit untuk diungkapakan, efek dari keadaan yang terlampau jenuh. Ini rasa tertinggi dimana pikiran mulai buntu dan tak berkembang. Padahal jiwa ini memiliki energi yang sulit untuk dibendung.

Lelah dan materi tak berarti saat hati ini berkata puas. Tetapi saat titik jenuh mulai menghantui hati selalu membrontak.

Manifestasi dari keadaan jenuh tadi membuat langkah kaki menjadi tak pasti, perasaan bosan dan tak produtif tentunya. Sebuah harapan dan kepercayaan hilang menjadi penistaan. Tak dipungkiri rasa ini membuat kacau isi otak.

Disaat rasa ini muncul, sebuah harapan dalam hati kecil, semoga bisa terlalui seperti sebelum – belumnya. Tapi bisa jadi rasa ini membuat pikiran berubah dan berkata tidak atau good bye…….

Palangka 8 Maret 2010

Dalam Doa

Ya Tuhan….
Kau telah melewatkan usiaku lebih dari seperempat abad,
Kau telah memberikan nyawa yang tak sia – sia ,
Dan Kau telah menyertakan berkat disetiap langkah.

Ya Tuhan....
Aku sadari banyak hal dalam anganku yang tak tercapai,
Banyak hal dari mimpiku yang terlewatkan,
Banyak hal dari inginku yang tak terwujud,
Tapi......
Banyak hal yang tak pernah kusadari Kau berikan pada ku.

Ya Tuhan.....
Aku tahu, hari kemarin banyak hal yang tersia – sia, tak bermanfaat dan terabaikan, besuk aku hanya berharap menjadi bagian yang selalu bersyukur & bermanfaat biarpun orang lain tak menganggap manfaat itu.

Ya Tuhan......
Disini aku hanya berteman dengan bayangan ilusi, dan aku hanya bisa berharap semua menjadi nyata.

Ya Tuhan.....
Ada yang telah pergi tak berarti dan yang datang membawa harapan,
Ada yang telah melupakan tapi masih banyak yang merindukan,
Ada yang menghujat tapi masih ada yang bersimpati,
Ada yang tak peduli tapi masih ada yang prihatin......

Ya Tuhan.....
Lengkapkan semua asaku,
Hanyak tekad dan niat yang ada,
Tapi keberanian masih terkubur dalam relung,
Kuatkan keinginanku menjadi keberanian yang nyata,
Tanpa terbeban hubungan baik,
Biarlah kebaikan itu aku balas dengan kebaikan yang lain.

Ya Tuhan.....
Telah banyak hari yang telah ku lalui,
Telah banyak orang yang kutemui,
Telah banyak cerita yang kutulis,
Telah banyak kecewaan dan kebahagian silih berganti pergi,
Telah banyak harapan yang terpupuk,
Telah banyak mimpi yang terbagi,
Tapi tak akan ada air mata lagi untuk itu,
Harus aku akui keingan dalam hatiku, untuk menatap pagi dari kampungku yang dingin.

Terimaksih Tuhan ku, Kau telah tunjukkan warna sesungguhnya dari kehidupan didunia ini dan biarkan aku menjadi seperti ini.

Palangka, 19 April 2010

Kamis, 25 Maret 2010

Nasib Ku

Sudah 2 minggu ini sendiri, sejak temen pulang ke Jawa, hanya sesekali orang datang, yang rutin hanya tukang koran, tapi saat hujan tiba seperti ini, juga tidak datang, harus besuk. Telepon sudah dari seminggu yang lalu diblokir karena bulan ini menunggak, Hp sejak 3 hari yang lalu sisa pulsa tinggal seribu, dan hari ini sisa empat ratus rupiah.

Sesekali masih ada telepon dan semoga ini bisa menyelesaikan masalah saat ini dan yang lalu – lalu. Tiga hari lalu ada telepon dari Jakarta, masih ada juga teman yang mau mendengar sharingku, setidaknya bisa memberikan sedikit pencerahan.

Ramalan zodiac minggu ini yang aku sering baca di koran harian lokal, “Minggu ini sedikit malas bekerja, cenderung cuek karena tak ada tujuan yang pasti, padahal bisa saja serius kalau kamu mau”. Pas banget……bukan untuk mempercayai terhadap ramalan itu, tapi memang pas banget dengan suasana hatiku. Sudah semingguan ini hanya bengong, game, tv, winamp. Malas rasanya ngapa – ngapain. Tapi anehnya badan rasanya capek semua.

Dan pagi ini, saat mata baru terbuka ternyata hujan telah mendahului, malas rasanya untuk bangun, tapi tetap ku paksakan untuk bangun. Biar pun cuek tapi aku masih tau diri, karena ikut orang. Jam 8 lewat baru kulangkahkan kaki ke kantor karena sebuah tanggung jawab biarpun dikantor hanya nonton TV nanti, hujan juga belum mau berhenti. Meniti tangga sampai lantai 4 membuat nafas tersengal - sengal, sudah ku bongkar semua isi tas, tapi tak ku temukan yang aku cari. Ya Allah kunci ketinggalan lagi di rumah. Baru ku ingat kemarin saat pulang kunci aku masukkan ke dalam kantong. Terpaksa aku harus pulang lagi.

Ah.......Nasib ku......
Semoga ada yang lebih baik dari ini semua.


Palangka, 23 Maret 2010

Kamis, 18 Maret 2010

Campur Rejo Cerita 3

Saat Panen……

Padi mulai menguning dan kelobot jagung sudah kering

Bapak sudah berangkat ke sawah biarpun ayam baru berkokok. Ibu sudah sibuk didapur sedari subuh untuk memasak. Saat matahari mulai bersinar, setangkup pisang ijo, nasi tumpeng, ayam panggang, botok, pelas, kulupan, sudah siap ditata dalam tenggok, tak lupa takir dan telur ayam jawa untuk sesaji.

Tak lama bapak datang untuk mengambil, ibu ikut serta kesawah pagi ini.

Sesampai di sawah yang tak seberapa luas, sudah ramai dengan orang – orang “Ngarit” (cari rumput), mereka saling berpacu memototong batang padi yang sudah kering.

Iya…..hari ini saatnya panen padi, setelah 3 bulan menunggu. Biarpun hasilnya hanya cukup untuk makan sendiri, tapi mereka terlihat gembira. Pak tani bisa bernafas lega melihat butir – butir pagi dalam karung dan para pencari rumput sedikit senang karena tak perlu susah payah mencari rumput untuk ternaknya setidaknya 2 hari kedepan.

Matahari sudah beranjak sampai diatas kepala, didalam gubuk ditengah pematang sawah ibu menghampar karung dan menyiapkan makanan yang dibawanya dari rumah untuk orang – orang yang kerja hari ini. Sebelum dibagikan pada orang – orang yang ikut membantu panen padi, potongan nasi tumpang dan sedikit lauk pauk diambil dan dibuang di pojok sawah dekat aliran sungai untuk “Dewi Sri” katanya. Dewi padi dan sebagai ungkapan rasa syukur pada Tuhan atas panen tahun ini.

Baru setelah itu mulailah makan bersama diatas pematang sawah dan teriknya matahari. Selembar daun pisang dibagikan untuk tempat makan. Biarpun badan penuh dengan keringat dan tangan masih kotor tetapi tak menyurutkan langkah untuk makan. Sedikit nasi putih, botok, pelas, sayur, sambel ”kambil” (kelapa), dan sedikit daging ayam terlihat nikmat di tambah rasa kebersamaan dan kegotong royongan. Sesekali diiringi guyonan dan obrolan kecil dari bapak – bapak dan ibu – ibu.

Butir – butir padi sudah dimasukkan dalam karung, damen – damen sudah selesai ditali. Bapak mulai mengangkutnya ke dalam pick up sewaan.
Malam ini bapak bisa tidur nyenyak, sambir terus berharap besuk tidak hujan sehingga bisa menjemur padi.


Palangka, 18 Maret 2010

Kamis, 11 Maret 2010

Campur Rejo Cerita 2

Kampungku yang harmonis dan dinamis…..


Tak banyak yang berubah dari kampungku dari dulu sampai sekarang, hanya saja rumah – rumah kayu dan bambu yang dulu mendominasi sudah jarang terlihat, semua berganti dengan tembok.

**************

Kaki kecil berlari diatas jalan yang berbatu, tak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Sekumpulan ibu – ibu berkumpul dan bercanda ria di kamar mandi umum depan rumah untuk menjalankan aktifitasnya mencuci & mandi.

Beberapa tahun lalu jalan berbatu itu sudah diaspal dengan dana swadaya masyarakat. Itu yang bisa dibanggakan, rasa kekeluargaan dan kegotong royongan masih melekat kuat di kampungku biarpun dijaman moderen seperti ini sulit ditemui. Kumpulan ibu – ibu yang beraktifitas di kamar mandi umum juga masih ada sampai sekarang. Aku tak tahu mengapa, padahal sebagian besar sudah memiliki kamar mandi sendiri. Sedikit menurut pendapat ibuku, ke kamar mandi umum itu sebagai bentuk sosialisasi dengan tetangga. Ah……alasan yang aneh meskipun bisa masuk akal juga. Aku tak tahu pasti sudah berapa lama kamar mandi umum itu ada, dari aku kecil sudah ada disitu.
Aku tak akan panjang lebar cerita tentang kamar mandi itu, karena dulu aku juga pernah mandi bersama disitu.

**************

Alunan lagu jawa (campursari) mulai mengalun keras dari pengeras suara, tandanya ada orang hajatan di kampung. Jauh – jauh hari sehabis masak di rumah masing - masing, ibu – ibu sudah berkumpul untuk masak memasak di rumah yang punya hajat, buat makanan kecil dan bumbu – bumbu. Sedangkan bapak – bapak, seminggu sebelum dan seminggu sesudah acara, setiap malam datang kerumah yang punya hajat untuk “lek – lek an”, tentunya dengan kartu remi yang menemani. Begitu juga saat ada kematian di kampung, dari sebelum pemakaman, acara 7 hari sampai nyewu (1000 hari) ibu – ibu saling bantu – membantu untuk masak dan menyiapkan keperluan selamatan, sedangkan malam harinya bapak – bapaknya datang untuk memberikan doa dan makan – makan.

Saat bulan puasa tiba, menjadi musim selamatan. Hampir tiap hari ada orang yang mengadakan, bahkan bisa bersamaan, yang ”ngirim ngluwur” , ”unggahan”, ”suran” dan tak tahu lagi apa namanya. Biarpun anak perempuan (biasanya yang selamatan laki – laki), waktu masih kecil aku suka ikut, bawa plastik kresek untuk bawa berkat, pisang, apem, atau secuwir daging ayam. Itu sangat menyenangkan, maklum dulu hanya waktu – waktu tertentu bisa makan dengan ayam.

******************

Tahun 80 an, TV menjadi barang langka, TV hitam putih yang embah miliki jadi alternatif hiburan bukan hanya keluarga tetapi juga warga kampung. Sehabis Magrib rumah sudah mulai penuh dengan orang untuk menonton srimulat atau area ria safari yang populer saat itu. Setelah sepuluh tahun tetangga sebelah memiliki TV berwarna yang dibawanya dari Jakarta. Mulailah orang – orang beralih kesitu, termasuk keluargaku. TV hitam putih yang kami miliki sudah tak asik lagi untuk di tonton karena hanya ada stasiun TPI waktu siang dan TVRI saat malam.
Aku ingat saat tragedi kerusuhan tahun 98 yang mencekam, pertama kali aku melihatnya di rumah tetangga itu.

Telenovela Marimar yang pernah tanyang di stasiun swasta, menjadi favorit ibu – ibu dan menjadi aktifitas baru ibu – ibu setiap sore untuk melihatnya. Sedangkan anak – anak setiap hari minggu dari pagi sudah standby disitu untuk menunggu film ksatria baja hitam, winspeaktour, jiban dan film impor dari Jepang lainnya.

Sekarang sudah puluhan tahun, hampir setiap rumah memiliki TV dan TV hitam putih kami menjadi barang rongsokan.

Campur Rejo Cerita 1

Alamku Tak Seperti Dulu…….

Puji syukur kehadirat Tuhanku
Untuk segala ciptaan
Untuk udara yang tak pernah habis
Untuk air yang selalu mengalir
Untuk tanah yang penuh berkah
Yang semuanya Kau jadikan untuk menghidupi mahluk-mahluk ciptaan - Mu.
***********

Kabut tipis mulai turun dari lereng gunung menyambut pagi. Dingin udara khas pegunungan menusuk sampai tulang, langit merah mulai nampak dari timur, menyinari separuh badan gunung, semakin siang semakin keatas dan hijau pepohonan mulai tampak jelas.

Jalan aspal hitam yang mulai berlubang sana – sini seakan buntu di ujung jalan, terhalang dinding raksasa yang menjulang nan kokoh. Rumah yang berderet seakan bertabir dengan alam yang begitu dekat.

Suara hewan – hewan mulai terdengar bersama dengan dimulainya aktifitas manusia.

Kampung kecil di kaki Gunung Lawu, yang begitu majemuk. Aku sangat rindu segarnya udara pagi, rindangnya pohon – pohon pinus dengan bau khas getah rukem, dinginnya air yang jernih dan indahnya “Watu Kelir” yang ditumbuhi rumput – rumput liar.

Sungai kecil di belakang rumah yang jernih sudah lama tak mengalir, demikian juga dengan sungai di bawah lereng itu, kering. Hanya onggokan batu – batu besar sekarang yang ada, sesekali saat hujan tiba sungai – sungai itu ada airnya. Beberapa tahun lalu banjir bandang menghanyutkan batu – batu besar dari atas bukit, yang membuat sungai – sungai itu mati, padahal banyak kenangan aktifitas disitu biarpun itu hanya “BAB”.

Saat orang – orang mulai bertambah banyak, air – air jernih dari sumber di atas bukit di ambil dengan pipa – pipa untuk dibawa kekampung, lahan – lahan garapan di anak gunung semakin luas. Sedangkan pohon – pohon pinus yang dulunya hijau mulai kikis di tebang dan dilahap api. Hampir tiap tahun, khususnya saat kemarau panjang kebakaran terjadi. Terakhir saat puasa tahun lalu, dari depan rumah bisa dilihat titik api bagaikan lampu – lampu kota.
Aku selalu heran dan bertanya pada bapakku, kenapa kita hanya bisa taman padi setahun sekali itu pun tergantung dengan musim hujan, sedangkan dulu bisa 2 kali dan sekali palawija, padahal kita hidup di daerah pegunungan, saat ini belum ada orang yang sadar dan mau mencari solusi dan inisiatif – inisiatif untuk mengembalikan gunung seperti dulu. Air hanya cukup untuk minum, mandi dan cuci saat ini itu kalau musim kemarau alirannya sangat kecil sekali, dan mulai banyak diributkan banyak orang, sedangkan untuk lahan persawahan yang tak begitu luas sudah tak kebagian..

Entah sepuluh tahun kedepan seperti apa wajah kampung ku, mungkin anak cucu ku hanya bisa mendengarkan cerita tentang pabrik gondo rukem yang telah lama terbakar, enaknya sayur “Jrembak” yang dulu banyak tumbuh di sungai atau bahkan mereka malah sibuk dengan perkembangan dunia maya.

Palangka, 10 Maret 2010

Senin, 08 Maret 2010

Oh.....Negaraku

Beberapa hari lalu mendengar cerita tentang fit and profertes di DPR dari seorang teman, besoknya melihat tingkah polah para anggota perwakilan rakyat saat sidang paripurna dan hari ini baru membaca dan melihat tentang money politik. Aku orang awam yang tak tahu hukum dan politik. Terus terang awalnya aku tak tertarik mengikuti kasus Century, pikirku kasus BLBI yang sampai ratusan trilyun tak tuntas apalagi century, tapi mendengar gaungnya yang heboh di TV jadi tertarik juga. Mulai saat Sri Mulyani memberikan kesaksian di pansus sampai terakhir tadi malam mendengarkan pidato Presiden menanggapi rekomendasi pansus.

Sebagai orang yang tak tahu carut marut dunia hukum dan politik, aku hanya bisa berpikir dan berandai sendiri. Alangkah banyaknya uang 6,7 trilyun itu, andai saja uang itu dibuat rusunawa yang 10% sudah masuk kantong untuk memperlancar proyek, akan berapa banyak gelandangan bisa tertampung, anak jalanan bisa sekolah dan berapa panjang jalan lintas propinsi di Kalimantan atau Papua bisa diaspal. Tapi negara begitu rumit, pertimbangan – pertimbangan politik mengalahkan logika dan yang nyata, terkadang yang putih menjadi hitam dan yang hitam menjadi abu – abu.

Fraksi PPP yang dalam voting 1 di pansus sepertinya mendukung alternatif I dengan menggabungkan rekomendasi A+C yang menurutku tak masuk akal tapi hanya dengan waktu yang kurang lebih 30 menit dalam voting 2 pendapat mereka sudah berbeda. Aku kutip pandangan akhir fraksi PPP dalam rapat pansus kemarin “Hakekatnya yang benar adalah benar dan tak selayaknya untuk di voting, seharusnya kebenaran di yakini secara aklamasi”. Apakah dengan rekomendasi C yang menjadi pilihan mereka merupakan sebuah kebenaran, entahlah yang pasti ada yang meyakini itu sebuah kebenaran dan pasti ada yang bertolak belakang, karena pikiran manusia berbeda – beda apalagi kalau sudah ada namanya kepentingan politik.

Hampir tiap hari berita kasus koropsi selalu saya baca di koran, dan hampir setiap ada proyek pemerintah selalu ada kebocoran anggaran. Anggaran pendidikan yang 20 trilyun sangatlah besar, tapi tetap saja tak bisa menyentuh masyarakat bawah, sekolah bukan gratis tapi malah tambah mahal dengan berbagai pungutan dan biaya – biaya yang tak lazim. Tetapi pejabat negara terus mendapatkan tambahan fasilitas yang sebenarnya tujuannya agar tidak menerima gratifikasi, toh juga korupsi masih saja ada di negeri ini. Sekali lagi aku hanya bisa berandai – andai, jikalau anggaran pendidikan 20 trilyun itu dapat tetap sasaran, anak tetangga ku pasti tak akan putus sekolah, padahal dia sangat mengharapkan bisa melanjutkan sekolah, tapi sebuah alasan yang klasik karena ekonomi keluarganya yang terbatas.

Belum lagi junjang ganjing Pemilukada yang menurut bahasa Banjar menjadi sebuah pertanyaan, hampir tiap hari wajah dan stetmen ibu yang cantik itu menghiasi koran lokal disini, dari masalah anggaran, Panwas sampai DPT. Jauh di kampung ku sana, berita tentang Pemilukada banyak menghiasi media infotainment yang biasa aku buka di internet, maklum salah satu calon nya dari kalangan artis. Lain kali akan kutanyakan pilihan ibuku untuk calon jagoanya.

Sebagai rakyat, keamanan dan kepastian usaha menjadi harapan, tapi harapan itu seakan semakin jauh bila melihat carut marut negara ini. Pak SBY sebagai presiden pilihanku semoga menjadi pemimpin yang bijak untuk kedamaian rakyat. Agar lima tahun kedepan bisa tersenyum mengembang seperti foto lima tahun lalu saat pertama kali manjadi presiden dan saat mengakhiri masa jabatannya menorehkan sejarah yang indah untuk negara ini.