Kamis, 11 Maret 2010

Campur Rejo Cerita 2

Kampungku yang harmonis dan dinamis…..


Tak banyak yang berubah dari kampungku dari dulu sampai sekarang, hanya saja rumah – rumah kayu dan bambu yang dulu mendominasi sudah jarang terlihat, semua berganti dengan tembok.

**************

Kaki kecil berlari diatas jalan yang berbatu, tak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Sekumpulan ibu – ibu berkumpul dan bercanda ria di kamar mandi umum depan rumah untuk menjalankan aktifitasnya mencuci & mandi.

Beberapa tahun lalu jalan berbatu itu sudah diaspal dengan dana swadaya masyarakat. Itu yang bisa dibanggakan, rasa kekeluargaan dan kegotong royongan masih melekat kuat di kampungku biarpun dijaman moderen seperti ini sulit ditemui. Kumpulan ibu – ibu yang beraktifitas di kamar mandi umum juga masih ada sampai sekarang. Aku tak tahu mengapa, padahal sebagian besar sudah memiliki kamar mandi sendiri. Sedikit menurut pendapat ibuku, ke kamar mandi umum itu sebagai bentuk sosialisasi dengan tetangga. Ah……alasan yang aneh meskipun bisa masuk akal juga. Aku tak tahu pasti sudah berapa lama kamar mandi umum itu ada, dari aku kecil sudah ada disitu.
Aku tak akan panjang lebar cerita tentang kamar mandi itu, karena dulu aku juga pernah mandi bersama disitu.

**************

Alunan lagu jawa (campursari) mulai mengalun keras dari pengeras suara, tandanya ada orang hajatan di kampung. Jauh – jauh hari sehabis masak di rumah masing - masing, ibu – ibu sudah berkumpul untuk masak memasak di rumah yang punya hajat, buat makanan kecil dan bumbu – bumbu. Sedangkan bapak – bapak, seminggu sebelum dan seminggu sesudah acara, setiap malam datang kerumah yang punya hajat untuk “lek – lek an”, tentunya dengan kartu remi yang menemani. Begitu juga saat ada kematian di kampung, dari sebelum pemakaman, acara 7 hari sampai nyewu (1000 hari) ibu – ibu saling bantu – membantu untuk masak dan menyiapkan keperluan selamatan, sedangkan malam harinya bapak – bapaknya datang untuk memberikan doa dan makan – makan.

Saat bulan puasa tiba, menjadi musim selamatan. Hampir tiap hari ada orang yang mengadakan, bahkan bisa bersamaan, yang ”ngirim ngluwur” , ”unggahan”, ”suran” dan tak tahu lagi apa namanya. Biarpun anak perempuan (biasanya yang selamatan laki – laki), waktu masih kecil aku suka ikut, bawa plastik kresek untuk bawa berkat, pisang, apem, atau secuwir daging ayam. Itu sangat menyenangkan, maklum dulu hanya waktu – waktu tertentu bisa makan dengan ayam.

******************

Tahun 80 an, TV menjadi barang langka, TV hitam putih yang embah miliki jadi alternatif hiburan bukan hanya keluarga tetapi juga warga kampung. Sehabis Magrib rumah sudah mulai penuh dengan orang untuk menonton srimulat atau area ria safari yang populer saat itu. Setelah sepuluh tahun tetangga sebelah memiliki TV berwarna yang dibawanya dari Jakarta. Mulailah orang – orang beralih kesitu, termasuk keluargaku. TV hitam putih yang kami miliki sudah tak asik lagi untuk di tonton karena hanya ada stasiun TPI waktu siang dan TVRI saat malam.
Aku ingat saat tragedi kerusuhan tahun 98 yang mencekam, pertama kali aku melihatnya di rumah tetangga itu.

Telenovela Marimar yang pernah tanyang di stasiun swasta, menjadi favorit ibu – ibu dan menjadi aktifitas baru ibu – ibu setiap sore untuk melihatnya. Sedangkan anak – anak setiap hari minggu dari pagi sudah standby disitu untuk menunggu film ksatria baja hitam, winspeaktour, jiban dan film impor dari Jepang lainnya.

Sekarang sudah puluhan tahun, hampir setiap rumah memiliki TV dan TV hitam putih kami menjadi barang rongsokan.

2 komentar:

Prie mengatakan...

assalamualaikum,
mengenang tempo dulu bisa menjadi hikmah yang indah, bermanfaat dan kesan yang mendalam ya mbak ...
sukses selalu mbak ...

yayun mengatakan...

Wallaikum Salam
Disaat di perantaun seperti sekarang hanya kenangan yang bisa mengobati rindu dengan kampung halaman......
Makasih doanya.....semoga Allah senantiasa menyertaimu.....