Kamis, 11 Maret 2010

Campur Rejo Cerita 1

Alamku Tak Seperti Dulu…….

Puji syukur kehadirat Tuhanku
Untuk segala ciptaan
Untuk udara yang tak pernah habis
Untuk air yang selalu mengalir
Untuk tanah yang penuh berkah
Yang semuanya Kau jadikan untuk menghidupi mahluk-mahluk ciptaan - Mu.
***********

Kabut tipis mulai turun dari lereng gunung menyambut pagi. Dingin udara khas pegunungan menusuk sampai tulang, langit merah mulai nampak dari timur, menyinari separuh badan gunung, semakin siang semakin keatas dan hijau pepohonan mulai tampak jelas.

Jalan aspal hitam yang mulai berlubang sana – sini seakan buntu di ujung jalan, terhalang dinding raksasa yang menjulang nan kokoh. Rumah yang berderet seakan bertabir dengan alam yang begitu dekat.

Suara hewan – hewan mulai terdengar bersama dengan dimulainya aktifitas manusia.

Kampung kecil di kaki Gunung Lawu, yang begitu majemuk. Aku sangat rindu segarnya udara pagi, rindangnya pohon – pohon pinus dengan bau khas getah rukem, dinginnya air yang jernih dan indahnya “Watu Kelir” yang ditumbuhi rumput – rumput liar.

Sungai kecil di belakang rumah yang jernih sudah lama tak mengalir, demikian juga dengan sungai di bawah lereng itu, kering. Hanya onggokan batu – batu besar sekarang yang ada, sesekali saat hujan tiba sungai – sungai itu ada airnya. Beberapa tahun lalu banjir bandang menghanyutkan batu – batu besar dari atas bukit, yang membuat sungai – sungai itu mati, padahal banyak kenangan aktifitas disitu biarpun itu hanya “BAB”.

Saat orang – orang mulai bertambah banyak, air – air jernih dari sumber di atas bukit di ambil dengan pipa – pipa untuk dibawa kekampung, lahan – lahan garapan di anak gunung semakin luas. Sedangkan pohon – pohon pinus yang dulunya hijau mulai kikis di tebang dan dilahap api. Hampir tiap tahun, khususnya saat kemarau panjang kebakaran terjadi. Terakhir saat puasa tahun lalu, dari depan rumah bisa dilihat titik api bagaikan lampu – lampu kota.
Aku selalu heran dan bertanya pada bapakku, kenapa kita hanya bisa taman padi setahun sekali itu pun tergantung dengan musim hujan, sedangkan dulu bisa 2 kali dan sekali palawija, padahal kita hidup di daerah pegunungan, saat ini belum ada orang yang sadar dan mau mencari solusi dan inisiatif – inisiatif untuk mengembalikan gunung seperti dulu. Air hanya cukup untuk minum, mandi dan cuci saat ini itu kalau musim kemarau alirannya sangat kecil sekali, dan mulai banyak diributkan banyak orang, sedangkan untuk lahan persawahan yang tak begitu luas sudah tak kebagian..

Entah sepuluh tahun kedepan seperti apa wajah kampung ku, mungkin anak cucu ku hanya bisa mendengarkan cerita tentang pabrik gondo rukem yang telah lama terbakar, enaknya sayur “Jrembak” yang dulu banyak tumbuh di sungai atau bahkan mereka malah sibuk dengan perkembangan dunia maya.

Palangka, 10 Maret 2010

Tidak ada komentar: