Saat Panen……
Padi mulai menguning dan kelobot jagung sudah kering
Bapak sudah berangkat ke sawah biarpun ayam baru berkokok. Ibu sudah sibuk didapur sedari subuh untuk memasak. Saat matahari mulai bersinar, setangkup pisang ijo, nasi tumpeng, ayam panggang, botok, pelas, kulupan, sudah siap ditata dalam tenggok, tak lupa takir dan telur ayam jawa untuk sesaji.
Tak lama bapak datang untuk mengambil, ibu ikut serta kesawah pagi ini.
Sesampai di sawah yang tak seberapa luas, sudah ramai dengan orang – orang “Ngarit” (cari rumput), mereka saling berpacu memototong batang padi yang sudah kering.
Iya…..hari ini saatnya panen padi, setelah 3 bulan menunggu. Biarpun hasilnya hanya cukup untuk makan sendiri, tapi mereka terlihat gembira. Pak tani bisa bernafas lega melihat butir – butir pagi dalam karung dan para pencari rumput sedikit senang karena tak perlu susah payah mencari rumput untuk ternaknya setidaknya 2 hari kedepan.
Matahari sudah beranjak sampai diatas kepala, didalam gubuk ditengah pematang sawah ibu menghampar karung dan menyiapkan makanan yang dibawanya dari rumah untuk orang – orang yang kerja hari ini. Sebelum dibagikan pada orang – orang yang ikut membantu panen padi, potongan nasi tumpang dan sedikit lauk pauk diambil dan dibuang di pojok sawah dekat aliran sungai untuk “Dewi Sri” katanya. Dewi padi dan sebagai ungkapan rasa syukur pada Tuhan atas panen tahun ini.
Baru setelah itu mulailah makan bersama diatas pematang sawah dan teriknya matahari. Selembar daun pisang dibagikan untuk tempat makan. Biarpun badan penuh dengan keringat dan tangan masih kotor tetapi tak menyurutkan langkah untuk makan. Sedikit nasi putih, botok, pelas, sayur, sambel ”kambil” (kelapa), dan sedikit daging ayam terlihat nikmat di tambah rasa kebersamaan dan kegotong royongan. Sesekali diiringi guyonan dan obrolan kecil dari bapak – bapak dan ibu – ibu.
Butir – butir padi sudah dimasukkan dalam karung, damen – damen sudah selesai ditali. Bapak mulai mengangkutnya ke dalam pick up sewaan.
Padi mulai menguning dan kelobot jagung sudah kering
Bapak sudah berangkat ke sawah biarpun ayam baru berkokok. Ibu sudah sibuk didapur sedari subuh untuk memasak. Saat matahari mulai bersinar, setangkup pisang ijo, nasi tumpeng, ayam panggang, botok, pelas, kulupan, sudah siap ditata dalam tenggok, tak lupa takir dan telur ayam jawa untuk sesaji.
Tak lama bapak datang untuk mengambil, ibu ikut serta kesawah pagi ini.
Sesampai di sawah yang tak seberapa luas, sudah ramai dengan orang – orang “Ngarit” (cari rumput), mereka saling berpacu memototong batang padi yang sudah kering.
Iya…..hari ini saatnya panen padi, setelah 3 bulan menunggu. Biarpun hasilnya hanya cukup untuk makan sendiri, tapi mereka terlihat gembira. Pak tani bisa bernafas lega melihat butir – butir pagi dalam karung dan para pencari rumput sedikit senang karena tak perlu susah payah mencari rumput untuk ternaknya setidaknya 2 hari kedepan.
Matahari sudah beranjak sampai diatas kepala, didalam gubuk ditengah pematang sawah ibu menghampar karung dan menyiapkan makanan yang dibawanya dari rumah untuk orang – orang yang kerja hari ini. Sebelum dibagikan pada orang – orang yang ikut membantu panen padi, potongan nasi tumpang dan sedikit lauk pauk diambil dan dibuang di pojok sawah dekat aliran sungai untuk “Dewi Sri” katanya. Dewi padi dan sebagai ungkapan rasa syukur pada Tuhan atas panen tahun ini.
Baru setelah itu mulailah makan bersama diatas pematang sawah dan teriknya matahari. Selembar daun pisang dibagikan untuk tempat makan. Biarpun badan penuh dengan keringat dan tangan masih kotor tetapi tak menyurutkan langkah untuk makan. Sedikit nasi putih, botok, pelas, sayur, sambel ”kambil” (kelapa), dan sedikit daging ayam terlihat nikmat di tambah rasa kebersamaan dan kegotong royongan. Sesekali diiringi guyonan dan obrolan kecil dari bapak – bapak dan ibu – ibu.
Butir – butir padi sudah dimasukkan dalam karung, damen – damen sudah selesai ditali. Bapak mulai mengangkutnya ke dalam pick up sewaan.
Malam ini bapak bisa tidur nyenyak, sambir terus berharap besuk tidak hujan sehingga bisa menjemur padi.
Palangka, 18 Maret 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar