Senin, 08 Maret 2010

Oh.....Negaraku

Beberapa hari lalu mendengar cerita tentang fit and profertes di DPR dari seorang teman, besoknya melihat tingkah polah para anggota perwakilan rakyat saat sidang paripurna dan hari ini baru membaca dan melihat tentang money politik. Aku orang awam yang tak tahu hukum dan politik. Terus terang awalnya aku tak tertarik mengikuti kasus Century, pikirku kasus BLBI yang sampai ratusan trilyun tak tuntas apalagi century, tapi mendengar gaungnya yang heboh di TV jadi tertarik juga. Mulai saat Sri Mulyani memberikan kesaksian di pansus sampai terakhir tadi malam mendengarkan pidato Presiden menanggapi rekomendasi pansus.

Sebagai orang yang tak tahu carut marut dunia hukum dan politik, aku hanya bisa berpikir dan berandai sendiri. Alangkah banyaknya uang 6,7 trilyun itu, andai saja uang itu dibuat rusunawa yang 10% sudah masuk kantong untuk memperlancar proyek, akan berapa banyak gelandangan bisa tertampung, anak jalanan bisa sekolah dan berapa panjang jalan lintas propinsi di Kalimantan atau Papua bisa diaspal. Tapi negara begitu rumit, pertimbangan – pertimbangan politik mengalahkan logika dan yang nyata, terkadang yang putih menjadi hitam dan yang hitam menjadi abu – abu.

Fraksi PPP yang dalam voting 1 di pansus sepertinya mendukung alternatif I dengan menggabungkan rekomendasi A+C yang menurutku tak masuk akal tapi hanya dengan waktu yang kurang lebih 30 menit dalam voting 2 pendapat mereka sudah berbeda. Aku kutip pandangan akhir fraksi PPP dalam rapat pansus kemarin “Hakekatnya yang benar adalah benar dan tak selayaknya untuk di voting, seharusnya kebenaran di yakini secara aklamasi”. Apakah dengan rekomendasi C yang menjadi pilihan mereka merupakan sebuah kebenaran, entahlah yang pasti ada yang meyakini itu sebuah kebenaran dan pasti ada yang bertolak belakang, karena pikiran manusia berbeda – beda apalagi kalau sudah ada namanya kepentingan politik.

Hampir tiap hari berita kasus koropsi selalu saya baca di koran, dan hampir setiap ada proyek pemerintah selalu ada kebocoran anggaran. Anggaran pendidikan yang 20 trilyun sangatlah besar, tapi tetap saja tak bisa menyentuh masyarakat bawah, sekolah bukan gratis tapi malah tambah mahal dengan berbagai pungutan dan biaya – biaya yang tak lazim. Tetapi pejabat negara terus mendapatkan tambahan fasilitas yang sebenarnya tujuannya agar tidak menerima gratifikasi, toh juga korupsi masih saja ada di negeri ini. Sekali lagi aku hanya bisa berandai – andai, jikalau anggaran pendidikan 20 trilyun itu dapat tetap sasaran, anak tetangga ku pasti tak akan putus sekolah, padahal dia sangat mengharapkan bisa melanjutkan sekolah, tapi sebuah alasan yang klasik karena ekonomi keluarganya yang terbatas.

Belum lagi junjang ganjing Pemilukada yang menurut bahasa Banjar menjadi sebuah pertanyaan, hampir tiap hari wajah dan stetmen ibu yang cantik itu menghiasi koran lokal disini, dari masalah anggaran, Panwas sampai DPT. Jauh di kampung ku sana, berita tentang Pemilukada banyak menghiasi media infotainment yang biasa aku buka di internet, maklum salah satu calon nya dari kalangan artis. Lain kali akan kutanyakan pilihan ibuku untuk calon jagoanya.

Sebagai rakyat, keamanan dan kepastian usaha menjadi harapan, tapi harapan itu seakan semakin jauh bila melihat carut marut negara ini. Pak SBY sebagai presiden pilihanku semoga menjadi pemimpin yang bijak untuk kedamaian rakyat. Agar lima tahun kedepan bisa tersenyum mengembang seperti foto lima tahun lalu saat pertama kali manjadi presiden dan saat mengakhiri masa jabatannya menorehkan sejarah yang indah untuk negara ini.

Tidak ada komentar: