Sabtu, 07 Agustus 2010

Palangka – Jakarta – Ngawi – Surabaya – Palangka

Akhirnya aku kembali kesini, setelah 10 hari perjalanan panjang Palangka – Jakarta – Ngawi – Surabaya – Palangka. Hari – hari terjebak pada escalator yang tak pernah berhenti berjalan dan naik turun lif yang tak mau berdiam. Mobil – mobil yang terus berjalan, rungan yang dibatasi kaca bagiku sangat mewah, saat ku memandang bayangan diriku ada hal yang tak biasa, semua serba otomatis. Beda dengan rumahku yang berantakan sana sini.

Lalu lalang kendaraan membuat kota ini tak pernah mati, kerumunan orang yang selalu berjalan tak saling mengenal. Setiap malam ku duduk dipinggir jendela sambil memandangi gemerlap lampu kota yang membuat kota ini semakin eksotik, jauh beda dengan disini seakan menjadi kota hantu saat kabut turun.

Setiap kali kubuka dorden panjang, kabut tipis turun perlahan dari celah gedung – gedung pencakar langit. Lampu puncak Monas belum mati saat jalan senen raya masih sedikit lengang.

Malas mata ini terbuka, dingin AC yang tak mati menambah nikmat untuk menarik selimut tebal. Kasur busa yang empuk menambah tidurku semakin nyaman, kulupan sebentar kasur tipisku dan sarung batik kesayangan. Tapi deadline waktu mengharuskan bangun pagi, ini bukan pinik gumanku........

Maklum orang kampung kekota terlihat udik biarpun ku coba untuk tidak katrok. Kuingat pengalaman temen yang bingung cari gayung dihotel berbintang. Ah......aku tak sekatrok itu, kalau mau mandi ada shower yang tinggal diputar sesuai selera, air panas atau dingin. Kalau sikat gigi ada gelas yang disediain. Hanya aku sedikit risi dengan WC duduk, biarlah menjadi katrok untuk urusan kencing dan BAB tetap jongok. Toh itu lebih sehat dan tidak ada yang melihat juga.......

Aku beruntung, seharusnya kamar untuk berdua, karena aku datang lebih dulu, aku bisa survei seisi kamar terutama alat – alat dikamar mandi yang tidak pernah kugunakan sebelumnya. Biarpun begitu orang katrok tetap saja terlihat, buka pintu kamarnya tetap minta bantuan clining servise ah........

Jakarta, pertama kali ditawari untuk pergi ku menolak halus dengan alasan yang konyal. Ku akui belum pernah ku ke Jakarta, biarpun selama ini ku melalang buana menyebrang pulau, Jakarta tetap menjadi kota yang yang beda terutama keramaian dan kemacetannya.

Beberapa hari sebelum berangkat aku sudah browsing peta Jakarta dan jalur busway. Tapi beruntung saat tiba dibandara ada saudara yang mau menjemput, sedikit lega perasaan. Sebenarnya itu juga karena kekwatiran ibuku yang berlebihan.

Dari hari pertama jadwal acara seharian, bikin capek tapi dengan mengenal teman – teman dari berbagai daerah sangat luar biasa menjadi pengalaman tersendiri. Kebersamaan yang singkat tapi penuh kesan tentang banyak hal. Berbagi pengalaman, cerita dan motivasi tentunya.

Biar jadwal kegiatan padat, tapi jalan – jalan tetap tak terlewatkan. Beruntung penginapan bersebelahan dengan Mall, tiap malam bisa jalan lihat diskon besar – besaran di Matahari, yang belum pernah ada disini. Atau bosen makan yang aneh – aneh dihotel, disebelah disediakan makanan cepat saji yang sesuai dengan selera perut dan kantong. Terakhir bisa jalan – jalan ke PRJ biar tidak beli apa – apa tapi bisa bawa cerita sebagai oleh – oleh kesini.

Hari ke 5 di Jakarta, saatnya untuk pulang kampung. Sebenarnya aku ingin naik kerta yang belum pernah ku rasakan, pagi – pagi aku nekat ke stasiun Gambir hanya untuk cari tiket, tapi apa mau dikata waktunya pas bebarengan arus balik liburan panjang, ah.....ga dapat, terpaksa harus ikut saudara pulang naik bis.

Jam satu siap untuk berangkat ke Jakarta Selatan, sekalian kesempatan untuk keliling Jakarta, melihat – lihat gedung – gedung yang selama ini hanya kulihat begitu angkuh di TV. Satu jam cukup untuk sampai ke Lebak Bulus, menerobos kemacetan Jakarta yang mengila.

”Gajah Manunggal”, baru sekali ini aku naik bis sebelum berangkat ada ustad yang memimpin doa. Sebuah terobosan services yang sebenarnya biasa tapi menjadi luar biasa.
Sabtu, 10 Juli 2010 jam tujuh pagi sampai di Solo. Biarpun terlambat beberapa jam, perjalanan Jakarta – Solo sangat nyaman. Saat ganti bis ekonomi antar provinsi jadi terasa langit dan bumi rasanya.......

Ah......akhirnya ku bisa melihat rumahku kembali, Alhmdulilah sudah lebih baik. Disambut dengan tawa ibuku, lelah beberapa hari ini sirna seketika. Kebetulan juga tetangga sebelah rumah punya gawe mantu. Gending Jawa dan campursari yang biasa ku dengar di radio saat kangen kampung halaman terdengar meriah. Kampungku yang sejuk selalu membuat kangen hati.

Kamis, 15 Juli 2010. Malam cepat juga berlalu, tak terasa pagi menjelang subuh. Pagi ini harus mengejar bis pagi menuju Surabaya, saatnya kembali kesini.

EVERYTHING GONNA BE OKAY........

Palangka, 15 Juli 2010 



Palangka, 15 Juli 2010

Tidak ada komentar: