Tampilkan postingan dengan label My Job. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Job. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 April 2016

Menyelusuri Kenangan



Lama aku tak menengok blok ini, akhirnya setelah sekian lama kumulai lagi menyusun huruf-huruf merangkai kata menjadi kalimat yang tak berarti.
Kumulai dengan ucapan syukur tiada tara….Allah telah memberi semua kebaikan kepadaku, tangis, penyesalan smua kecewa…rasanya hanya munafik dari diriku. Aku selalu lupa menyadari karunia Allah yang luas tak terhingga. Banyak nikmat yang tercurah, yang harus aku lebih syukuri.
Kumulai lagi tulisanku dengan perjalananku ke Kabupaten Bulungan awal Maret lalu. Sudah 2 tahun aku tak kesini, tak banyak berubah tapi ada yang berubah. Sepanjang tepian sungai Kayan menjadi cantik, enak untuk dibuat jogging. Dua tahun lalu tak pernah terbayang olehku, untuk berjalan-jalan disepanjang tepian sungai ini. Dalam ingatanku sepanjang tepian sungai ini hanyalah tanah becek jika hujan. Tapi sekarang menjadi taman dengan jogging track yang panjang, bunga-bunga dan lampu-lampu hias yang indah.
Sengaja aku jalan kaki menyelusuri sepanjang tepian sungai ini sore itu, hari itu memang panas terik, tapi senja di tepian sungai Kayan sangat indah. Dari balik pepohonan dibelakang pulau yang memisahkan sungai ini menjadi dua, matahari mulai tenggelam, sinarnya kekuningan terpancar diatas air sungai, terpendar dalam langit yang biru bersih. Sesekali mesin speed memecah keheningan air sungai. Teringat suatu masa dimana aku harus datang disalah satu desa dipulau itu. Desa dengan kedamaian, terbentang pohon jeruk yang manis dan keramahan penduduk desanya yang luar bisa. Disisi lain dari pulau itu, ada desa dengan budaya lokal yang masih kental. Ah….itu masa-masa aku masih kurus dan hitam tapi menyenangkan.
Kembali ketaman ini, tanam ini dimulai dari tugu cinta damai dan sepertinya menjadi maskot kota ini, baguslah sebuah pesan perdamaian untuk sebuah daerah yang multi etnis. Taman milik semua kalangan dari orang tua yang punya penyakit rematik dan suka berjalan dijalan batu-batu atau orang dewasa suka bersepada maupun anak-anak suka bermain jungkit.
Setelah beberapa tahun lalu menjadi ibu kota provinsi Kalimantan Utara, sedikit ada pembanguan. Tapi satu kata sepi masih terasa. Jauh lebih ramai kota Tarakan dibandingkan kota ini. Maklum dari sebelum pemekaran pembanguan dan perekonomian kota Tarakan lebih maju. Bekas kerusuhan karena masalah pilkada gubernur beberapa bulan lalu juga sudah tak terlihat. Kantor gubernur yang pernah dibakar masa sudah rapi. Sedikit beda dibelakang kantor gubernur terlihat gedung menjulang yang belum jadi. Mungkin buat perkantoran yang baru. Tempat penyebrangan klotok untuk ke kecamatan Tanjung Palas juga telah dibangun bagus, beda dengan 3 tahun yang lalu. Saat kami berfoto disitu.
Kota ini menyimpan banyak kenangan buatku. Es oyen didepan hotel tunas dulu menjadi favorit jikala panas. Dan yang selalu tak terlupa dari kota ini adalah ikan rebus di warung pujasera. Dulu ikan rebus menjadi menu tiap malam. Pasar sore masih seperti dulu, deretan toko-toko yang dulu tak pernah berubah. Sepanjang jalan diperkantoran masih seperti dulu, saat aku mengulangi menyusuri sepanjang jalan itu seperti dulu.
Cerita dan kenangan di kota ini akan selalu tersimpan dalam ingatan. Pahit, manis, indah dan lelah menjadi bagian dari  kisah perjalanan dikota ini. Entah kapan lagi ada kesempatan dan umur untuk datang lagi ke kota ini walapun hanya sekedar untuk mengenang. Suatu hari pasti akan ada rasa kangen itu. Akan kutulis guratan cerita dalam hati tentang sepenggal perjalanan yang luar biasa.

Senin, 12 Maret 2012

Cerita dari Kampung diatas Rawa

Pagi ini sedikit mendung, tapi tak hujan. Kami telah tiba di pelabuhan kecil dipinggir Sungai Meriam. Menelusuri sungai yang panjang seakan tak berujung. Lambaian daun nipah dipinggir sungai seakan menyambut atau bahkan mereka sebenarnya muak melihat tongkang batubara yang setiap hari hilir mudik dengan angkuh. Ini sebuah ketidak adilan, puluhan tongkang tiap hari membawa batu bara melalui sungai sedangkan sepanjang jalan di Kaltim hancur tak tertambal.
Mulutku hanya bisa diam, tersumpal dengan rasa kekaguman yang luar biasa atas karunia Tuhan, atas sungai yang elok, pohon yang indah, dan orang-orang yang tercipta luar biasa, yang mau dan mampu tinggal jauh diatas gemuruh air. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa memikirkan kata-kata yang bisa kurangkai untuk mengungkapkan semua ini. Deretan pipa-pipa gas tersambung sampai lepas pantai. Sesekali speed boat hilir mudik memecah riak sungai, puluhan tongkang  kosong berjajar rapi.
Tak pernah terbayang diujung sungai nanti ada kampung yang ramai seperti kota diatas air. Tapi ini nyata, keterbatasan tak terlihat, rumah-rumah diatas rawa berjajar melingkari jalan ulin yang licin karena gerimis dan berjajar rapat. Toko-toko kelontong, toko baju sampai toko peralatan bangunan lengkap sudah ada yang jual, tabung gas, sampai kulkas dan alat listrik lainnya ada yang punya, entah kapan mereka bisa menggunakannya kalau listrik hidupnya dari Magrib sampai jam 7 pagi. Kami sampai di kampung ini beberapa saat sebelum sholat Jum`at. Kampung ini cukup agamis, hari Jum`at mereka libur tidak mencari ikan. Anak sudah pulang sekolah, sudah ada sekolah dasar sampai SMP. Syukurlah setidaknya anak-anak kampung ini biarpun jauh dari daratan kota masih bisa mengenal namanya sekolah.
Tuan rumah yang kami datangi sangat baik dan ramah, orang bugis kelihatannya. Kami dimasakkan berbagai masakan khas penduduk pinggir sungai, kepiting saos, udang goreng, ikan bakar dan kerupuk udang bikinan sendiri. Ibu yang punya rumah banyak bercerita tentang anak-anaknya (yang paling bontot kembar) dan kehidupan warga kampung. Warga kampung sebagian besar adalah nelayan dan petani tambak, yang unik kebiasaan janda-janda di kampong ini, setiap habis subuh sampai petang mereka menyelusuri sungai hanya untuk memacing ikan, udang, kepiting dan mencari getah damar. Saat aku ijin ke belakang untuk pipis, ibu yang punya rumah, “Ibu kami belum punya WC, begini seadaanya”, tapi yang membuat aku terkejut biar tidak punya WC tapi punya mesin cuci dan Happy Pan yang selama ini hanya pernah aku lihat dari iklan ditv lokal. Ah……ini karena sudah maju atau termakan kemajuan jaman yang semakin edan.
Kampung ini bersebelahan dengan perusahaan besar yang mengebor gas dari lepas pantai, tapi tak banyak yang mereka rasakan dengan adanya perusahaan ini. Sebagian besar penduduknya tetap menjadi petani tambak dan nelayan yang menggantungkan hidupnya pada hasil tangkapan ikan, malah mereka mengeluhkan air sungai yang semakin pekat sehingga panen udang mereka tak tentu. Kalau saat ini ada listrik itu karena adanya fasilitas PNPM dan sekali lagi hidupnya pun cuma dari Magrib sampai jam 7 pagi.
Saat pulang, kami melewati jalur yang berbeda. Kami menyelusurin sungai Sepatin yang kanan kirinya tambak yang telah hancur. Diujung sungai berjajar kapal-kapal ikan dimana mereka membawa keluarganya hidup dikapal juga. Aku benar-benar melihat dari dekat kehidupan mereka, dari memasak, cucian tidur mereka lakukan dalam kapal. Hanya Mushola mereka yang terlihat didarat. Selama ini yang pernah aku tahu hanya suku Bajau di Sulawesi yang hidup dikapal, ternyata orang-orang Kutai ada juga yang hidup di atas kapal.
Air mulai pasang saat speed kami mulai meninggalkan sungai Sepatin, gelombang mulai tinggi, hantaman air membuat speed tergoncang-goncang. Biarpun badan sakit, tapi inilah hidup yang lebih berwarna.

Sepatin, Jum`at, 9 Maret 2010

Jumat, 24 Februari 2012

SEPENGGAL KISAH DARI MUARA SUNGAI

Pagi ini aku sudah siap jam 6 pagi, hanya satu harapan semoga cuaca cerah tidak hujan. Persiapan yang bribet bikin demun smua orang, perjalanan 2 jam dengan mobil menyelusuri jalan penuh lubang diantara kanan kiri kubangan tambang dan gunung yang telah habis digerus, sungguh pemandangan yang sangat ironis….
Muara Jawa………..
Speed mulai menyelusuri sungai panjang perlahan-lahan meninggalkan pelabuhan, lama kelamaan semakin cepat dengan hentakan-hantakan yang membuat jantung berdebar. Aku sangat menikmati pagi ini birunya langit, riak-riak sungai hembusan angin, air sungai yang amis dan lambaian daun nipah, menyertai sepanjang perjalanan. Speed mulai masuk ke anak sungai kecil dengan pelan-pelan. Aku berpikir inikah kehidupan orang di pinggiran sungai yang jauh dari peradaban darat apalagi kota….. jikalau speed sampai kenapa-napa kadas, karam atau kebalik sejam kemudian mungkin baru ada orang yang tahu, tanpa ada pengaman yang standar (pelampun dan alat komunikasi) meraka biasa hilir mudik menyelusuri sungai2 ini yang seakan tak berujung dengan tenang. Belum lagi kalo ada buaya di rawa, ah…..ku tepis smua angan burukku, aku pasrah sama Allah apa yang akan terjadi nanti, yang penting ini asik juga untuk dinikmati.
Perjalanan yang lumayan panjang satu jam lebih diatas speed, sampai juga disebuah perkampungan terapung hanya 30 kk dalam satu RT, dengan kehidupan yang sederhana bergantung dari hasil tangkapan ikan dan tambak mereka bertahan hidup. Kanan kiri depan semua air. Satu yang membuat aku penasaran bagaimana mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya, ini bukan bukan masalah uang tapi jauhnya sekolah yang harus mereka jangkau tanpa ada jalan darat atau kendaraan umum, satu-satunya kendaraan untuk transportasi mereka hanya speed, untuk mencapai kota kecamatan sekali jalan bolak-balik minimal Rp. 300.000,- untuk biaya beli bahan bakar. 
Gubrak…….
Duh Gusti….ini sangat tak adil bagi mereka. Tapi apa daya mereka masyarakat pesisir yang termajinalkan oleh isolir dan ketidak perdulian dari elit politik yang dengan enak mengendarai mobil mewah dan hanya mau menyelusuri jalan-jalan mulus ibukota. Biarpun katanya pro rakyat tapi semua itu hanya sebuah kalimat manis yang diagapnya sebagai hiburan atau penghibur yang sebenarnya rakyat tidak butuh itu, mereka hanya mengingikan semua nyata. 


Muara Jawa, Desa Muara Kembang Dusun Muara Ulu Besar 23 Februari 2012

Sabtu, 23 Januari 2010

Oleh-Oleh dari Sampit

Lima jam perjalanan Palangka Raya – Sampit, sangat melelahkan. Hujan deras yang mengguyur sejak awal perjalanan terasa semakin lama, membuat jalan menjadi licin dan sulit. Untuk pertama kalinya aku ke Sampit, Kotawaringin Timur. Dari Palangka Raya – Kasongan, Katingan, sekitar 2 jam lebih, karena itu aku tak bisa memejamkan mata, hal yang baru untuk melihat pemandangan sepanjang perjalanan. Pemandangannya tak berbeda jauh dengan jalan – jalan di derah Kalimantan lainya yang pernah aku kunjungi, hanya ada ilalang dan pepohonan perdu yang terlihat.

Jalan menuju Kasongan ’lumayan”, kalaupun ada lubang disana sini masih bisa memperlancar perjalanan. Dari semua itu yang paling mentyedihkan malah kota Kasongan sendiri. Sebagai ibu kota kabupaten Katingan, kota Kasongan sangat tak teratur, aku hisa bilang lebih bagus kota Kecamatan di daerah asalku di Jawa. Jalan dikota Kasongan sendiri banyak berlubang yang menjadi danau saat hujan. Entalah mungkin karena aku hanya lewat saja tak melihat langsunh tengah kotanya.

Kasongan – Sampit ditempuh sekitar 3 jam, karena jalan licin dan hijan deras. Ada pengalaman yang menarik, saat melalui daerah Kereng Pangi, jalannya sempit dan berluang, lebar jalan kurang lebih sama dengan jalanan di desa asalku, malah lebih baik mungkin. Waktu melewati jalanan yang sempit, mobil yang kami tumpangi di belakang truk trailer yang membawa alat berat. Karena jalan yang sempit dan truk yang lebar sangat memakan badan jalan, mobil tak bisa memdahului,bahkan untuk bersisihan dengan mobil lain, mobil lain harus keluar badan jalan. Lain lagi ceritanya saat bersisihan dengan truk muatan, salah satu harus berhenti, karena ujan yang mengguyur membuat tanah dipinggir badan jalan menjadi becek dan rawan amblas.

Mamasuki Kabupaten Kotim (Kotawaringin Timur), jalanan sudah banyak mulus dan lebih lebar, jauh dibandingkan dengan jalan yang kami lalui sebelumnya (Kabupaten Katingan). Ini sangat menggambarkan adanya kesenjangan pembangunan daerah, mungkin faktornya karena besaran PAD yang diterima daerah. Kotim sebagai salah satu daerah di Kalimantan Tengah yang perekonomianya maju, karena banyak perkebunan didaerah Kotim dan ada akses untuk langsung ke pulau Jawa baik melalui kapal maupun pesawat.

Sebelum memasuki kota Sampit melewati suatu tempat keramaian, namanya daerah Cempaga, ternyata ada relly yang sedang diadakan disitu untuk memperingati HUT Kalteng yang ke-52 tahun. Satu tempat yang aku melewati dan yang pengen sekali aku lihat yaitu gunung batu, menurut cerita disitu salah satu mantan gubernur Kalteng sering bersemedi, tapi sayang karena hujan deras dan kabut aku tak bisa melihatnya.

Mamasuki kota Sampit yang merupakan ibu kota Kotim, membuat aku sedikit terkejut dan heran, pasalnya koata Sampit menurutku jauh lebih ramai dari Palangka Raya yang merupakan ibu kota Propinsi. Kotanya pun lebih bagus dan rapi. Satu hal yang membuatku heran, saat melewati gedung bertingkat yang kelihatan asri, didepan gedung tertulis Bank Indonesia. Baru saat itu aku melihat di kota kabupaten terdapat perwakilan BI, gedungnya pu menurutku lebih bagus dibandingkan gedung BI di Jalan Diponegoro Palangka Raya. Setelah aku tanya-tanya, ternyata dulu perwakilan BI ada di Sampit, Kotim. Bahkan katanya sebelum ada Bank BCA di Palangka Raya, di kota Sampit sudah ada terlebih dahulu. Satu lagi yang secara kasar bisa aku bandingkan antara kota Sampit – Palangka Raya, yaitu keberadaan hotel. Baru memasuki kota sampit (pinggiran kota Sampit) sudah terdapat hotel yang lumayan bagus, kalau tak salah namanya Hotel Wella (menurutku sekelas hotel Senyiur di Samarinda). Satu lagi hotel yang representatif yaitu Hotel Idola. Aku bisa bilang begitu karena hotel itu tujuan kami (sebelum kami ke Sampit, beberapa hari sebelumnya ada band papan atas Indonesia yang juga menginap disitu). Hotel Idola denga lima lantai tidak beda jauh dengan hotel Grand Victoria di Samarinda, walau aku tak tahu masuk hotel berbintang atau tidak.

Palangka Raya sebagai ibu kota propinsi Kalimantan Tengah, saat ini memang ada hotel bintang 4, tetapi baru dibuka beberapa hari sesudah kami dari kota Sampit. Sebelumnya ada Hotel Dandang Tingang dan Hotel Batu Suli yang paling bagus , itupun sekelas hotel melati. Dulu sewaktu Bapak Sofjan Wanandi, pemilik group Gemala dan Ketua Umum APINDO pusat, datang ke kota Plangka Raya dan menginap di Hotel Dandang Tingang, bilang kemapa hotelnya seperti ”asrama Mahasiswa”, karena itu Bapak Sofjan membangun hotel di Palangaka Raya (saat ini dalam proses pembangunan).

Melihat langsung kota sampit dan membandingkan dengan koa Palangka Raya, jelas terlihat geliat perekonomian yang lebih maju di Sampit. Banyaknya perusahaan perkebunan besar (Kelapa Sawit) sangat mempengaruhi percepatan pembangunan di Kotim. Kondisi keamana yang sekarang lebih kondusif di Kotim menjadi motor penggerak investasi di kota tersebut. Kerusuhan masal yang berbau SARA beberapa tahun silam, pernah membuat sagnasi perekonomian kabupaten Kotim. Setelah semuanya kondusif manjadikan Kotim sebagai salah satu daerah yang maju di Kalimantan Tengah.

Kalimantan Tengah merupan propinsi yang memiliki petensi SDA yang besar, dari mulai bahan galian (batu bara), kehutanan dan perkabunan, seharunya bisa membuat daerah ini maju dan makmur, tapi kenyataannya tak begitu. Sebagai salah satu penghasil batu bara dan pemasok batu bara ke Jawa harusnya tak ada krisis listrik di Kalteng ataupun di pulau Kalimantan pada umumnya. Tapi kenyataanya masalah listrik masih sangat memperhatinkan, dan menghambat laju perekomonian di Kalimantan Tengah.

Kalimantan Tengah sendiripun untuk listrik masih menginduk ke Banjarmasin sebagai propinsi tetangga. Sudah seharusnya Kalteng memiliki pembangkit sendiri untuk mengiatkan perekonomian Kalteng, khususnya sektor industri manufaktur. Saat ini rencana pendirian pembangkit di kabupaten Pulang Pisau pun juga tak jelas nasibnya.

Kapan Kalteng bisa maju, seperti propinsi di pulau Jawa?? Obrolan itu muncul saat kami ada dalam mobil. Salah satu temen di mobil bilang, 50 tahun mendatang, padahal sekarang usia propinsi Kalteng sudah 54 tahun. Jika harus menunggu 50 tahun, mungkin aku sudah tak bisa melihatnya.

Suatu hari aku pernah chating dengan salah satu temen lamaku yang sekarang kerja di PLN di Jakarta , aku menanyakan pada dia, kenapa di Palangka Raya sering mati lampu??? (dengan nada bercanda dan maksudku bisa sharing dengan dia), dia menjawab ”tunggu aja nanti juga hidup” jawabnya sekenanya, yang membuat aku sangat kecewa. Padahal Kalteng penghasil batu bara dan pemasok batu bara ke Jawa, yang lebih penting lagi menurutku dari 3 daerah yang pernah aku singgahi di Pulau Klaimantan, Kalteng paling ”tertinggal”, dalam hal pembangunannya.

Untuk memajukan daerah bukan hal yang mudah memang, perlu waktu, SDM, jaminan investrai untuk para penanam modal. Itu perlu tangung jawab dan kerjasama berbagai pihat, masyarakat&pemerintah, tanpa harus ada yang saling ”mengembosi”

(Perjalanan ke Sampit, 29 Mei 2009)

Senin, 18 Januari 2010

MAFIA

Pak bos ada???
Tanya orang yang tadi pagi datang kekantor. Sudah 2 kali dia datang ke kantor dengan misi yang sama, menanyakan bos. Dan sudah kesekian kalinya aku menjawab dengan jawaban yang sama dan berulang-ulang,
Tidak pak!!!!
Memang keadaanya begitu.
*****

Sejak aku disini, aku belajar untuk hati-hati pada semua orang terutama yang baru ku kenal. Walaupun seharusnya sebagai staf aku harus bisa mempromosikan kepada semua orang untuk bisa bergabung disini.


Sebelumnya jika ada orang yang bertanya tentang bos, aku biasa cerita ceplas - ceplos, mungkin karena bawaan. Sampai suatu ketika ada orang yang katanya mau bisnis tanaman obat dan katanya kenal dengan bos karena satu daerah asal, waktu itu aku sempat kasih nomor bos juga, eee..... temenku bilang
Mba, jangan asal kasih nomor bos kesembarang orang yang belum dikenal, biasanya orang-orang gitu, W***, atau L*** yang minta-minta duit......

Mulai saat itu aku baru tahu, dunia mafia perbisnisan.....
Aku sering dengar calo tiket, Marsus (Makelar Kasus), ternya didunia bisnis juga ada, yang bentuknya serupa tapi tak sama, aku bilang "Mafia Perbisnisan"
*****

Suatu hari aku ngobrol di kantor dengan teman yang kerja di sebuah perusahaan, pas kebetulan waktu itu mau ada kunjungan Presiden, ko` temenku itu dapat telepon diminta bookingkan hotel untuk salah satu pejabat dari daerah.
Apa yang terlintas dipikiranku saat itu????
"Wah, mba ini ternyata kenalannya pejabat-pajabat, hebat juga ya.....Dia masih muda lagi, sudah punya relasi yang luas"
Pada waktu itu aku belum dekat, kebetulan sebelumnya aku memang tidak pernah bersentuhan dengan dunia mafia seperti ini, walaupun untul scala kecil penah juga melihatnya.

Setelah beberapa lama, aku mulai sering ngobrol dengan mbanya.  Wah.....aku baru tahu hal yang baru, yang mengejutkank, dan aku jujur ke mbanya dengan apa yang aku pikirkan saat itu, ternyata suatu yang sangat bertolak belakang.
******
Lain cerita, suatu hari pas kebetulan ada rapat dikantor, ada tamu datang kekantor, lagi-lagi mencari bos. Saat itu kebetulan temenku yang bukakan pintu, jadi aku tak tahu maksud dan tujuannya si tamu, tapi kayanya temenku sudah paham masalah seperti itu, jadi disuruh nunggu saja diruang tamu. Setelah rapat selesai, ko` bos minta dibukakan pintu samping dan pergi lewat situ. Aku baru tahu si tamu adalah orang yang minta sumbangan.
******
Pernah juga aku kena omel bos (Ya maksudnya baik seh...), waktu itu aku pagi-pagi dapat telepon ,
Mba, tolong sampaikan ke Bapak, Bapak X mau bicara penting, nanti tolong hubungin nomor 0812532***, tanpa curiga dan pikir panjang aku langsung telepon bos, karena si penelpon menyatut nama seorang pejabat, karena tidak diangkat aku sms saja bos. Tidak seberapa lama bos langsung telepon,
"Yun, ini siapa yang telepon, nomornya saja nomor jawa. Kalau bapak itu aku punya nomornya, bukan yang ini", bilang bos.
Wah......aku hanya diam tidak bisa jawab deh.....
*******
Aku jadi berpikir, mungkinkah ini wajah dari negaraku tercinta, dibalik dunia yang nyata, ternyata ada wajah gelap (Undergroud), yang mengais uang dari mengiba. Wajah gelap yang sebenarnya ada tapi terlihat atau dibuat abu-abu.
Pengemis mengais rejeki dengan meminta-minta tetapi beda dengan ini, aku tak bilang gerombolan atau kelompok, karena gerombolan itu terorganisi dan dia bukan mencari rejeki, karena rejeki itu dicari dengan jalan yang halal & benar, kalaupun itu hasil mengemis, tapi karena yang mengasih  pun iklas.

Di dunia bisnis, hal seperti itu seakan sudah biasa dan menjadi hal yang wajar, padahal sangat merugikan karwayan dan aku sendiri merasakan hal itu sebagai ketidakadilan. Semua menjadi korelasi, seharusnya apa yang bisa dikasihkan perusahaan untuk hal "intertain" ke "mafia" bisa untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Dari cerita salah satu teman, perusahaan memang mengalokasikan dana untuk "intertain", bahkan kadang besarannya lebih besar dari operasional kantor.
Ini sangat menyedihkan dan ironis sekali dan sudah bukan rahasia umum lagi.

Terlalu banyak prosedur perbisnisan yang harus mengeluarkan biaya intertain besar mulai dari instansi 2P, T, W, L, mungkin masih ada lagi sumbangan lain-lain yang tidak ada tittle nya. Yang ini semua bukan bagian dari CSR perusahaan.


Padahal untuk bisa mengerakkan dunia usaha, harusnya birokrasi yang panjang dan mengeluarkan banyak uang, perizinan misalnya dapat dikurangi. Tapi kelihatannya "mafia perbisnisan" sudah mengakar dan merajalela di negara ini, biarpun masalah penegakan hukum bagian dari program 100 hari kerja presiden.
Tidak heran kalo, pengusaha menjadi penyumbang dalam pemilu legislatif maupun eksekutif.

Kasus Artalita Suryani yang menyuap jaksa Urip menjadi salah satu contoh adanya mafia perbisnisan yang  berkombinasi dengan mafia hukum terungkap dipublik. Yang tak terungkap akan lebih banyak tentunya ini menjadi fenomena gunung es.
Kasus terbaru berkaitan dengan Artalita Suryani, bisa menghuni kamar tahanan bak hotel mewah yang tentunya harus dibelinya dengan uang. Tapi itu menjadi bukti uang bisa mengotrol, pengusaha dengan uang bisa melakukan apa saja untuk memperlanjutkan dan mempermudah bisnisnya, disisi lain jika pengusaha tidak mau mengeluarkan uangnya, bisnisnya juga tidak bisa berjalan.
Waullahualam....

11 Januari 2010