Lima jam perjalanan Palangka Raya – Sampit, sangat melelahkan. Hujan deras yang mengguyur sejak awal perjalanan terasa semakin lama, membuat jalan menjadi licin dan sulit. Untuk pertama kalinya aku ke Sampit, Kotawaringin Timur. Dari Palangka Raya – Kasongan, Katingan, sekitar 2 jam lebih, karena itu aku tak bisa memejamkan mata, hal yang baru untuk melihat pemandangan sepanjang perjalanan. Pemandangannya tak berbeda jauh dengan jalan – jalan di derah Kalimantan lainya yang pernah aku kunjungi, hanya ada ilalang dan pepohonan perdu yang terlihat.
Jalan menuju Kasongan ’lumayan”, kalaupun ada lubang disana sini masih bisa memperlancar perjalanan. Dari semua itu yang paling mentyedihkan malah kota Kasongan sendiri. Sebagai ibu kota kabupaten Katingan, kota Kasongan sangat tak teratur, aku hisa bilang lebih bagus kota Kecamatan di daerah asalku di Jawa. Jalan dikota Kasongan sendiri banyak berlubang yang menjadi danau saat hujan. Entalah mungkin karena aku hanya lewat saja tak melihat langsunh tengah kotanya.
Kasongan – Sampit ditempuh sekitar 3 jam, karena jalan licin dan hijan deras. Ada pengalaman yang menarik, saat melalui daerah Kereng Pangi, jalannya sempit dan berluang, lebar jalan kurang lebih sama dengan jalanan di desa asalku, malah lebih baik mungkin. Waktu melewati jalanan yang sempit, mobil yang kami tumpangi di belakang truk trailer yang membawa alat berat. Karena jalan yang sempit dan truk yang lebar sangat memakan badan jalan, mobil tak bisa memdahului,bahkan untuk bersisihan dengan mobil lain, mobil lain harus keluar badan jalan. Lain lagi ceritanya saat bersisihan dengan truk muatan, salah satu harus berhenti, karena ujan yang mengguyur membuat tanah dipinggir badan jalan menjadi becek dan rawan amblas.
Mamasuki Kabupaten Kotim (Kotawaringin Timur), jalanan sudah banyak mulus dan lebih lebar, jauh dibandingkan dengan jalan yang kami lalui sebelumnya (Kabupaten Katingan). Ini sangat menggambarkan adanya kesenjangan pembangunan daerah, mungkin faktornya karena besaran PAD yang diterima daerah. Kotim sebagai salah satu daerah di Kalimantan Tengah yang perekonomianya maju, karena banyak perkebunan didaerah Kotim dan ada akses untuk langsung ke pulau Jawa baik melalui kapal maupun pesawat.
Sebelum memasuki kota Sampit melewati suatu tempat keramaian, namanya daerah Cempaga, ternyata ada relly yang sedang diadakan disitu untuk memperingati HUT Kalteng yang ke-52 tahun. Satu tempat yang aku melewati dan yang pengen sekali aku lihat yaitu gunung batu, menurut cerita disitu salah satu mantan gubernur Kalteng sering bersemedi, tapi sayang karena hujan deras dan kabut aku tak bisa melihatnya.
Mamasuki kota Sampit yang merupakan ibu kota Kotim, membuat aku sedikit terkejut dan heran, pasalnya koata Sampit menurutku jauh lebih ramai dari Palangka Raya yang merupakan ibu kota Propinsi. Kotanya pun lebih bagus dan rapi. Satu hal yang membuatku heran, saat melewati gedung bertingkat yang kelihatan asri, didepan gedung tertulis Bank Indonesia. Baru saat itu aku melihat di kota kabupaten terdapat perwakilan BI, gedungnya pu menurutku lebih bagus dibandingkan gedung BI di Jalan Diponegoro Palangka Raya. Setelah aku tanya-tanya, ternyata dulu perwakilan BI ada di Sampit, Kotim. Bahkan katanya sebelum ada Bank BCA di Palangka Raya, di kota Sampit sudah ada terlebih dahulu. Satu lagi yang secara kasar bisa aku bandingkan antara kota Sampit – Palangka Raya, yaitu keberadaan hotel. Baru memasuki kota sampit (pinggiran kota Sampit) sudah terdapat hotel yang lumayan bagus, kalau tak salah namanya Hotel Wella (menurutku sekelas hotel Senyiur di Samarinda). Satu lagi hotel yang representatif yaitu Hotel Idola. Aku bisa bilang begitu karena hotel itu tujuan kami (sebelum kami ke Sampit, beberapa hari sebelumnya ada band papan atas Indonesia yang juga menginap disitu). Hotel Idola denga lima lantai tidak beda jauh dengan hotel Grand Victoria di Samarinda, walau aku tak tahu masuk hotel berbintang atau tidak.
Palangka Raya sebagai ibu kota propinsi Kalimantan Tengah, saat ini memang ada hotel bintang 4, tetapi baru dibuka beberapa hari sesudah kami dari kota Sampit. Sebelumnya ada Hotel Dandang Tingang dan Hotel Batu Suli yang paling bagus , itupun sekelas hotel melati. Dulu sewaktu Bapak Sofjan Wanandi, pemilik group Gemala dan Ketua Umum APINDO pusat, datang ke kota Plangka Raya dan menginap di Hotel Dandang Tingang, bilang kemapa hotelnya seperti ”asrama Mahasiswa”, karena itu Bapak Sofjan membangun hotel di Palangaka Raya (saat ini dalam proses pembangunan).
Melihat langsung kota sampit dan membandingkan dengan koa Palangka Raya, jelas terlihat geliat perekonomian yang lebih maju di Sampit. Banyaknya perusahaan perkebunan besar (Kelapa Sawit) sangat mempengaruhi percepatan pembangunan di Kotim. Kondisi keamana yang sekarang lebih kondusif di Kotim menjadi motor penggerak investasi di kota tersebut. Kerusuhan masal yang berbau SARA beberapa tahun silam, pernah membuat sagnasi perekonomian kabupaten Kotim. Setelah semuanya kondusif manjadikan Kotim sebagai salah satu daerah yang maju di Kalimantan Tengah.
Kalimantan Tengah merupan propinsi yang memiliki petensi SDA yang besar, dari mulai bahan galian (batu bara), kehutanan dan perkabunan, seharunya bisa membuat daerah ini maju dan makmur, tapi kenyataannya tak begitu. Sebagai salah satu penghasil batu bara dan pemasok batu bara ke Jawa harusnya tak ada krisis listrik di Kalteng ataupun di pulau Kalimantan pada umumnya. Tapi kenyataanya masalah listrik masih sangat memperhatinkan, dan menghambat laju perekomonian di Kalimantan Tengah.
Kalimantan Tengah sendiripun untuk listrik masih menginduk ke Banjarmasin sebagai propinsi tetangga. Sudah seharusnya Kalteng memiliki pembangkit sendiri untuk mengiatkan perekonomian Kalteng, khususnya sektor industri manufaktur. Saat ini rencana pendirian pembangkit di kabupaten Pulang Pisau pun juga tak jelas nasibnya.
Kapan Kalteng bisa maju, seperti propinsi di pulau Jawa?? Obrolan itu muncul saat kami ada dalam mobil. Salah satu temen di mobil bilang, 50 tahun mendatang, padahal sekarang usia propinsi Kalteng sudah 54 tahun. Jika harus menunggu 50 tahun, mungkin aku sudah tak bisa melihatnya.
Suatu hari aku pernah chating dengan salah satu temen lamaku yang sekarang kerja di PLN di Jakarta , aku menanyakan pada dia, kenapa di Palangka Raya sering mati lampu??? (dengan nada bercanda dan maksudku bisa sharing dengan dia), dia menjawab ”tunggu aja nanti juga hidup” jawabnya sekenanya, yang membuat aku sangat kecewa. Padahal Kalteng penghasil batu bara dan pemasok batu bara ke Jawa, yang lebih penting lagi menurutku dari 3 daerah yang pernah aku singgahi di Pulau Klaimantan, Kalteng paling ”tertinggal”, dalam hal pembangunannya.
Untuk memajukan daerah bukan hal yang mudah memang, perlu waktu, SDM, jaminan investrai untuk para penanam modal. Itu perlu tangung jawab dan kerjasama berbagai pihat, masyarakat&pemerintah, tanpa harus ada yang saling ”mengembosi”
(Perjalanan ke Sampit, 29 Mei 2009)
1 komentar:
asik juga kayaknya ke sampit....
Posting Komentar