Membaca catatan teman siang tadi menjadi inspirasiku untuk menulis hal serupa dan mengingat tentang sepanggal pengalaman dan perjalan hidup yang tak pernah diduga.
Aku sadari apa yang terjadi merupakan takdir dari Tuhan yang tak mungkin manusia bisa menolaknya. Begitu pula dengan Dia. Lahir sebagai anak peremupuan dan pertama dari seorang istri pertama (ada istri k2 dan ke 3), mungkin tak pernah diinginkan, tapi tak pernah menyesal biarpun itu tak nyata.
Mbah Ukar biasa orang menyebutnya. Mbah dari bahasa Jawa yang artinya nenek atau kakek, dan Ukar adalah nama anaknya yang pertama. ( Sebuah kebiasaan dikampungku, nama anak pertama menjadi nama panggilan bapak atau ibunya.
Sebenarnya dia dilahirkan dari keluarga yang bisa dibilang terpandang dikampung. Bapaknya seorang guru SR, yang pasti tak banyak orang bisa pada jamannya. Namun karena bapaknya dan ibunya cerai dan masing-masing kawin lagi, sehingga dia ditipkan ke kaka dari ibunya, yang kebetulan juga memiliki anak yang cukup banyak. Namun aku tak mau berkomentar lebih jauh tentang hal itu.
Menikah diusia muda dan bekerja keras dengan berjualan minyak tanah dijalininya. Dulu dia sering bercerita untuk mendapatkan minyak yang harus berjalan berkilo-kilo meter karena letak kampungku yang jauh dari kota dan tak ada angkutan untuk menjangkaunya. Namun tak pernah menyurutkan langkahnya. Karena usahanya, lambat laun usahanya mulai berkembang, tidak hanya minyak tanah yang dijual tapi juga kebutuhan pokok.
Dari usahanya bisa punya kuda yang tentunya istimewa, karena tak banyak bisa membelinya dan untuk berjualan kepasar tak lagi berjalan kaki, ada sepeda yang membantunya. Dia berjualan dipasar dekat rumah, setiap hari pasaran jawa.
Aku juga pernah ikut berjualan di pasar, saat liburan. Sebungkus tepo (lontong), atau jenang (bubur) dan opak (krupuk, sebagai hadiahnya aku ikut membantu. Walaupun tak ikutpun aku selalu dapat jajan itu jika pulang dari pasar. Bahkan sampai aku sudah mahasiswa pun, kalo pulang jajan dari pasar itu tak pernah ketinggalan.
Kebun dan tanah yang luas, bukti dari kemakmuran yang didapatnya karena kerja kerasnya waktu muda dan selalu dibanggakan itu sebagai jerih payahnya sendiri, tanpa ada gono gini (warisan) dari orang tuanya.
Kebanggaannya bisa menyekolahkan ke-2 putranya dari 3 anaknya sampai keperguruan tinggi yang tak banyakorang kampung bisa. Seperti kebanyakan orang desa yang berpendidikan rendah dan berpikiran sederhana, prinsip hidupnya pun hanya bisa menyekolahkan anaknya biarpun orangtuanya bodoh.
Satu cerita yang aku ingat untuk membayar uang sekolah yang pada waktu itu sebesar Rp. 9.000,-, dijualnya anak sapi yang masih ada diperut induknya.
Mbah Ukar, seorang wanita desa dan istri dari seorang suami yang keras. Biasa dimaklumi sebagai manuasia yang dilahirkan dijaman Belanda, sekte feodal masih lekat, selalu mengabdi dan menurut pada suami, walaupan kadang tak masuk akal. Sebenarnya dalam hatinya ingin menolak tapi pada ujung-ujungnya akan iya.
Seorang istri yang selalu mengabdi untuk keluargnya, mengurus suami dan ke 3 putranya sambil bekerja untuk mengakat ekonomi keluarga.
Dimasa menjelang senjanya Mbah Ukar bisa menikmati dari usahanya disaat muda. Jualannya tak bisa seperti dulu, persaingan sudah tak bisa dilakukannya lagi, karena usianya yang sudah tak muda lagi dan penyakit hipertensi yang sering menggrogoti. Masa senjanya dihabiskan dengan berkebun walaupun hasilnya tak seberapa tapi cukup untuk makan dan menyenangkan hatinya. Tiap hari bisa kepasar untuk berjualan hasil kebun sendiri.
Mbah Ukar menutup semuanya disuatu pagi yang tragis. Saat puasa hari ke-7 akan selalu ku ingat dan kukenang. Kami telah menikmati usahanya, satu pesan yang kuingat "Tak semua orang sama dan berpikiran baik untuk kita biarpun itu namanya keluarga sendiri.
Semua menjadi kenangan sekarang dan nanti.
Palangka, 31 Des 09.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar