Tanya orang yang tadi pagi datang kekantor. Sudah 2 kali dia datang ke kantor dengan misi yang sama, menanyakan bos. Dan sudah kesekian kalinya aku menjawab dengan jawaban yang sama dan berulang-ulang,
Tidak pak!!!!
Memang keadaanya begitu.
*****
Sejak aku disini, aku belajar untuk hati-hati pada semua orang terutama yang baru ku kenal. Walaupun seharusnya sebagai staf aku harus bisa mempromosikan kepada semua orang untuk bisa bergabung disini.
Sebelumnya jika ada orang yang bertanya tentang bos, aku biasa cerita ceplas - ceplos, mungkin karena bawaan. Sampai suatu ketika ada orang yang katanya mau bisnis tanaman obat dan katanya kenal dengan bos karena satu daerah asal, waktu itu aku sempat kasih nomor bos juga, eee..... temenku bilang
Mba, jangan asal kasih nomor bos kesembarang orang yang belum dikenal, biasanya orang-orang gitu, W***, atau L*** yang minta-minta duit......
Mulai saat itu aku baru tahu, dunia mafia perbisnisan.....
Aku sering dengar calo tiket, Marsus (Makelar Kasus), ternya didunia bisnis juga ada, yang bentuknya serupa tapi tak sama, aku bilang "Mafia Perbisnisan"
*****
Suatu hari aku ngobrol di kantor dengan teman yang kerja di sebuah perusahaan, pas kebetulan waktu itu mau ada kunjungan Presiden, ko` temenku itu dapat telepon diminta bookingkan hotel untuk salah satu pejabat dari daerah.
Apa yang terlintas dipikiranku saat itu????
"Wah, mba ini ternyata kenalannya pejabat-pajabat, hebat juga ya.....Dia masih muda lagi, sudah punya relasi yang luas"
Pada waktu itu aku belum dekat, kebetulan sebelumnya aku memang tidak pernah bersentuhan dengan dunia mafia seperti ini, walaupun untul scala kecil penah juga melihatnya.
Setelah beberapa lama, aku mulai sering ngobrol dengan mbanya. Wah.....aku baru tahu hal yang baru, yang mengejutkank, dan aku jujur ke mbanya dengan apa yang aku pikirkan saat itu, ternyata suatu yang sangat bertolak belakang.
******
Lain cerita, suatu hari pas kebetulan ada rapat dikantor, ada tamu datang kekantor, lagi-lagi mencari bos. Saat itu kebetulan temenku yang bukakan pintu, jadi aku tak tahu maksud dan tujuannya si tamu, tapi kayanya temenku sudah paham masalah seperti itu, jadi disuruh nunggu saja diruang tamu. Setelah rapat selesai, ko` bos minta dibukakan pintu samping dan pergi lewat situ. Aku baru tahu si tamu adalah orang yang minta sumbangan.
******
Pernah juga aku kena omel bos (Ya maksudnya baik seh...), waktu itu aku pagi-pagi dapat telepon ,Mba, tolong sampaikan ke Bapak, Bapak X mau bicara penting, nanti tolong hubungin nomor 0812532***, tanpa curiga dan pikir panjang aku langsung telepon bos, karena si penelpon menyatut nama seorang pejabat, karena tidak diangkat aku sms saja bos. Tidak seberapa lama bos langsung telepon,
"Yun, ini siapa yang telepon, nomornya saja nomor jawa. Kalau bapak itu aku punya nomornya, bukan yang ini", bilang bos.
Wah......aku hanya diam tidak bisa jawab deh.....
*******
Aku jadi berpikir, mungkinkah ini wajah dari negaraku tercinta, dibalik dunia yang nyata, ternyata ada wajah gelap (Undergroud), yang mengais uang dari mengiba. Wajah gelap yang sebenarnya ada tapi terlihat atau dibuat abu-abu.Pengemis mengais rejeki dengan meminta-minta tetapi beda dengan ini, aku tak bilang gerombolan atau kelompok, karena gerombolan itu terorganisi dan dia bukan mencari rejeki, karena rejeki itu dicari dengan jalan yang halal & benar, kalaupun itu hasil mengemis, tapi karena yang mengasih pun iklas.
Di dunia bisnis, hal seperti itu seakan sudah biasa dan menjadi hal yang wajar, padahal sangat merugikan karwayan dan aku sendiri merasakan hal itu sebagai ketidakadilan. Semua menjadi korelasi, seharusnya apa yang bisa dikasihkan perusahaan untuk hal "intertain" ke "mafia" bisa untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Dari cerita salah satu teman, perusahaan memang mengalokasikan dana untuk "intertain", bahkan kadang besarannya lebih besar dari operasional kantor.
Ini sangat menyedihkan dan ironis sekali dan sudah bukan rahasia umum lagi.
Terlalu banyak prosedur perbisnisan yang harus mengeluarkan biaya intertain besar mulai dari instansi 2P, T, W, L, mungkin masih ada lagi sumbangan lain-lain yang tidak ada tittle nya. Yang ini semua bukan bagian dari CSR perusahaan.
Padahal untuk bisa mengerakkan dunia usaha, harusnya birokrasi yang panjang dan mengeluarkan banyak uang, perizinan misalnya dapat dikurangi. Tapi kelihatannya "mafia perbisnisan" sudah mengakar dan merajalela di negara ini, biarpun masalah penegakan hukum bagian dari program 100 hari kerja presiden.
Tidak heran kalo, pengusaha menjadi penyumbang dalam pemilu legislatif maupun eksekutif.
Kasus Artalita Suryani yang menyuap jaksa Urip menjadi salah satu contoh adanya mafia perbisnisan yang berkombinasi dengan mafia hukum terungkap dipublik. Yang tak terungkap akan lebih banyak tentunya ini menjadi fenomena gunung es.
Kasus terbaru berkaitan dengan Artalita Suryani, bisa menghuni kamar tahanan bak hotel mewah yang tentunya harus dibelinya dengan uang. Tapi itu menjadi bukti uang bisa mengotrol, pengusaha dengan uang bisa melakukan apa saja untuk memperlanjutkan dan mempermudah bisnisnya, disisi lain jika pengusaha tidak mau mengeluarkan uangnya, bisnisnya juga tidak bisa berjalan.
Waullahualam....
11 Januari 2010
Waullahualam....
11 Januari 2010


Tidak ada komentar:
Posting Komentar