Dek jaman semono.....Kukelingan anak lanang....
Biyen tak openi.....
Jur saiki ono ngendi....
Neng gunung tak pakani sego jagung......
Sedikit syair campursari, yang masih ku ingat, itu berjudul "Caping Gunung", baru saja berlalu dari radio.
Semenjak aku tidak tinggal di luar pulau Jawa, campursari menjadi salah satu lagu favoritku. Walaupun aku tak banyak tahu tentang lagu-lagu campursari, setidaknya akusuka mendengarkannya.
Terdengar aneh memang !!! Untuk ukuran jaman sekarang, dimana orang muda lebih menyukai musik-musik pop, RnB atau yang lainnya, walaupun sebenarnya aku sudah tidak muda lagi.
Ada kedamaian yang aku rasakan saat mendengar lagu-lagu jawa dan nuansa jawanya membawa pikiranku terbang jauh ke kampungku di jawa, mengingatkanku saat tetangga sebelah yang kebetulan seorang "waranggono" yang suka memutar lagu jawa dengan keras-keras atau saat ada yang punya hajatan manten dikampung.
Anehnya, saat di jawa lebih sering cuek atau gerutu saat dengar tetangga atau bapakku mendengarkan lagu-lagu campursari.
Sekitar tahun 90 an, saat aku masih SD, pernah ada shooting campursari di hutan Perhutani dekat rumah, untuk mengisi acara di TVRI. Jaman itu sudah jelas shooting merupakan hal baru khususnya di kampungku dan sekitarnya.
Yang kuingat saat itu, yang menonton Masya Allah banyaknya, sampai desakan-desakan. Biarpun begitu antusian penonton tetap luar biasa.
Beberapa lalu, lagu-lagu campursari memang sempat menjadi fenomena dibelantikan musik Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Bak cendawan dimusim hujan, group-group campursari tumbuh dimana-mana termasuk juga dikampungku, bukan hanya mengusung lagu-lagu campursari saja, bahkan jenis-jenis kesenian lain juga terkena "wabah" campursari, hingga lahir ketoprak campursari, jatilan campursari dan satu lagi pergelaran wayang kulit pun sudah didominasi dengan campursari, seperti yang pernah dikeluhkan Si Mbahku.
Sejak dulu aku memang tidak suka dengan acara-acara perayaan atau hiburan rame-rame dikampung yang berbau dangdut dan tradisional. Sebagai anak ABG waktu itu, aku mikir itu gengsi dan kampungan, aku lebih memilih nonton acara di TV dari pada melihat pergelaran campursari, biarpun sekarang kebalikannya.
Beberapa tahun kemudian, aku akhirnya melihat juga campursari dirumah tetanggaku. Mungkin itu yang pertama dan yang terakhir (sampai saat ini) aku lihat secara live, biarpun sering juga ada pertunjukan campursari dikampung.
Aku haran, ternyata apa yang aku bayangkan dengan yang aku lihat saat itu sangat jauh beda. Bayanganku campurasi identik dengan khasanan kesenian jawa yang adiluhung biarpun musiknya ada percampuran unsur moderen. Dimana penyanyinya memakai adat jawa, seperti Didi Kempot atau Waljanah yang pernah aku lihat di TV. Tapi kenyataanya, penyanyi campursari malah menggunakan gaun yang terbuka dan lebih menonjolkan sensualitas dan goyangan, lebih pasnya disebut penyanyi dangdut mungkin. Yang nonton juga kebanyakan anak-anak muda.
Aku kira, campursari sebagai salah satu kekayaan budaya jawa yang memiliki nilai keselarasan yang apik karena merupakan perpaduan musik jawa dan musik moderen sebagai upaya untuk melestarikan kebudayaan jawa khususnya lagu-lagu jawa, mengingat adanya pergeseran pola pikir dan selera anak muda jaman sekarang (seperti aku dulu). Namun sangat disayangkan kalau pada akhirnya pertunjukan campursari hanya menjadi ajang pamer sensualitas dan goyangan penyanyinya. Terlebih penontonnya yang kebanyakan anak muda sering membuat kekacauan.
Untuk saat ini, eksitensi musik campursari sudah tak seperti dulu lagi. Musik campursari mulai kalah bersaing dengan musik jaman sekarang. Banyak musisi campursari mengatakan bahwa jenis musik ini mengalami stagnasi. Disisi lain, para pemerhati menyayangkan adanya gejala para musisi campursari yang selama ini mengabaikan nilai-nilai keadiluhungan dan ruh campursari. Nilai-nilai keadiluhungan campursari sebagai kreasi yang berangkat dari seni tradisi (Jawa), di antaranya dari pola sajian musik, pola garap serta kostum para musisi maupun penyanyi, perlu dipertahankan.
Yang jelas sekarang, campursari menjadi obat rasa kangen dengan kampung halamanku.
(berbagai sumber)
Palangka, 12 Jan 10

Tidak ada komentar:
Posting Komentar