Rabu, 03 Maret 2010

Kenangan

Mulai kubuka kembali ingatanku yang mulai usang, penuh dengan kenangan. Kampungku yang dingin menyimpan banyak kenangan yang tak kan pernah beku. Tentang keluargaku, masa kecilku, tetanggaku sampai teman masa kecilku.

Polah tingkah bocah kecil yang masih senang bermain dengan kenakalan – kenakalannya yang suka menggangguin temannya atau saat berebut gambar – gambar buah yang mengharuskan digantungkan pada papan sebagai tanda absen, dan saat lomba paduan suara di kabupaten, entah lagu apa yang dulu pernah kami nyanyikan aku sudah lupa, sedikit yang kuingat rok pendek warna hitam dengan atasan pendek warna kuning kecokelatan (seperti batik) dengan dasi kupu – kupu warna hitam dan topi warna senada dengan kemejanya seragam kami waktu itu. Menjadi kisah tak terlupakan saat masih di TK dulu.

Tak banyak teman satu sekolahku, maklum sekolah TK tak populer di kampung saat itu. Hanya kami berdua dilingkungan tempat tinggalku, teman masa kecilku, kami masih keluarga biarpun dulu banyak masalah dikeluarga kami. Umur kami hanya beda satu tahun, sejak kecil kami tumbuh bersama, bermain bersama, bersekolah bersama, terkadang kami bandel juga bersama. Suatu hari kami disuruh bawa makan kesekolah, tapi hanya kami berdua yang lupa tak membawa.

***********

Ruangan yang cukup luas dengan bangku – bangku dari kayu disusun berjajar lima dan sebuah papan tulis hitam yang bersebelahan dengan WC yang kotor dan bau, kelas pertamaku di SD.
Bangunan keseluruhan berbentuk L dengan halaman tanah liat yang luas dan becek saat hujan. Pohon beringin yang besar ada di depan kantor guru, dibawahnya tempat kami menyanyi saat upacara. Tempat favoritku taman kecil diujung, tempat kami berkumpul sambil menghafalkan nama – nama Menteri zaman orde baru. Di sebelah lapangan ada satu rumah yang dulu ditempati salah satu guru kami dan tempat dimana saat istirahat jam pertama kami menonton film Ramayana dengan berdesak – desakan.
Sudah lama aku tak melihatnya, 10 tahun lebih, semua pasti sudah berubah, semoga lapangan becek itu sudah tidak ada.
Sekolah SD dikampung sebelah yang tak diunggulkan, muridnya sebagian besar anak petani yang tak bersepatu ke sekolah dan tas plastik hitam untuk membawa bukunya yang ujung menggulung. Banyak orang menyebutnya SD ”Setro” dan banyak orang pula yang menganggap SD yang tak berkualitas, dan aku selalu sakit hati dengan itu.
Agak jauh sekolahku dari rumah, harus melewati ladang – ladang yang sepi dengan jalan batu yang kasar dan menyebrangi jembatan bambu.

Menjadi kenangaan saat kami biasa bermain engklek atau ditempatku biasa disebut ”Gaco”, bermain karet atau kelereng yang mungkin saat ini sudah tak populer lagi. Atau saat berkumpul di depan peta besar untuk mencari nama – nama kota atau mencari letak gunung ibu. Latihan SKJ, membuat tandu untuk persiapan kemah, latihan gerak jalan dan drama untuk lomba di kecamatan.

Ada 35 teman sekelasku sampai kami tamat, yang sempat kutulis kembali nama – namanya di diaryku untuk mengingatkannya. Sebagian masih ada dikampung sebagian lagi entah kemana. Ada yang sudah berkeluarga, ada yang belum dan ada yang sudah tiada.

Terakhir berkaitan dengan WC yang bau, akan selalu kukenangan saat kami dihukum guru olah raga untuk membersihkan WC dan kami berolok – olok karena hal itu.

Kenangan selalu menjadi kenangan yang tak akan pernah terlupa.

Tidak ada komentar: