Dari kecil aku selalu kecewa dan sedih jika ada orang atau temen-temenku yang bertanya,
”Kenapa kamu sekolah jauh-jauh???
Kenapa kamu ga minta ini dan itu ma orang tuamu, kan kamu anak tunggal, duit ortumu buat apa???
Aku sangat benci dengan pertanyaan itu. Aku tak mungkin menjelaskan pada semua orang tentang ini dan itu. Bahkan sampai tes interview saja ditanya seperti itu. Kenapa banyak orang menganggap jadi anak tunggal itu enak, bisa minta ini dan itu, padahal menurutku sebagai anak tunggal aku memiliki tanggung jawab yang besar, dan sendiri untuk menjaga orang tua. Mungkin banyak orang yang tidak pernah didik berdemokrasi dalam keluarganya.
Sebenarnya bisa saja aku minta dibelikan ini dan minta itu, apalagi waktu kuliah yang jauh dari orangtua. Tapi aku tak akan lakukan itu karena orang tuaku selalu mengajarkan untuk sederhana dan aku terbiasa seperti itu. Ibu dan Bapakku selalu terbuka, tentang masalah keluarga kami sampai masalah uang sekalipun, sehingga aku tahu kemampuan orang tuaku.
Aku berusaha selalu tegar dan sabar karena orangtuaku mencontohkan itu padaku. Dulu sewaktu aku berangkat pertama kali ke Kalimantan, banyak tetanggaku menangis, tapi Ibu ku tidak, walapun aku tahu sedih juga didalam hatinya.
Bertahun-tahun Ibuku pernah sakit, tapi tetap sabar dan itu aku tahu tentang kesabaran.
Orang tuaku selalu mengajarkan untuk selalu mengahargai dan ramah pada orang lain. Walaupun kadang aku malas, tapi Ibuku tak bosan-bosannya selalu mengingatkan untuk bisa bertegur sapa atau setidaknya senyem pada tetangga.
Orang tuaku selalu mengajarkan untuk bekerja keras. Sejak kecil aku selalu diajak Ibuku untuk menggendong kayu dari kebun atau ikut memupuk ke sawah. Walapun tidak tiap hari, tapi aku tahu betapa keras orang tuaku untuk bisa menyambung hidup.
Biarpun aku perempuan, tapi Bapakku tak pernah mengajariku untuk menjadi lemah. Aku selalu dibangunkan malam untuk menonton bola, atau diajak untuk memperbaiki mobil.
Orang tuaku selalu mengajarkanku untuk selalu mengenal dan menjaga sillaturahmi dengan keluarga. Setiap bulan Ramadhan tiba, berjiarah kemakan leluhur wajib hukumnya untuk diikuti, demikian pula saat lebaran tiba, berkunjung kesanak famili harus ikut, biarpun kadang aku malu.
Orangtuaku mengajarkan berbagai hal, agar aku siap untuk hidup di masyarakat yang plural. Orang tuaku selalu mengajarkan aku untuk berbagi, jika aku punya. Orang tuaku mencontahkan yang baik agar aku tahu mana yang baik dan yang tidak. Dan orang tuaku telah mengajarkan hal yang baik tentunya agar aku bisa sukses.
Orangtuaku selalu mengharapkan anaknya bisa berpendidikan biarpun, orang tuanya tidak sekolah.
Aku sangat beruntung lahir dari keluarga yang sederana dan demokratis. Aku sangat beruntung orangtuaku memberikan dukungan penuh untuk anaknya.
Aku pernah melihat, potongan koran lusuh yang ditempel di kulkas di rumah omku. Gambarnya dua anak kecil yang satu memikul kayu dan satu lagi membawa rumput dikepalanya. Dibawah gambar ada tulisan tangan, ” Masa Kecilku”.
Aku jadi tahu, itu menjadi sarana omku untuk mengingatkan masa kecilnya dan juga mengajarkan/mengenalkan pada anaknya tentang perjuangan orang tuanya. Dan mungkin juga berharap agar anaknya bisa menghargai perjuangan ayahnya agar dia tidak sombong.
Pastinya orang tuaku juga berharap demikian, setidaknya agar anak cucunya nanti bisa menghargai apa yang telah dilakukan moyangnya untuk menyambung satu generasi.
Dan aku menyadari tanggung jawabku sebagai anak. Aku yang harus menjaga nama baik dan kehormatan orang tuaku, dan menyayangi hingga akhir hayatnya, sebagai mana orang tuaku menjaga dan menyayangiku sewaktu kecil. Biarpun orang tuaku tak pernah meminta imbal balik pada anaknya, atas semua yang telah diperjuangkan.
Suatu hari, ibuku pernah bilang ke bapakku :
”Makannya seadanya jangan minta yang aneh-aneh, biar nanti terbiasa kalo ikutnya anaknya”.
Mendengar, guyonan itu aku hanya bisa tersenyum, setelah apa yang dia perjuangkan untuk anaknya, tak sedikitpun berharap imbalan dan menyusahkan anaknnya.
Ya Allah jagalah Dia dan balaslah apa yang telah dia perjuangkan.
Bapak Ibu, maafkan aku belum bisa membanggakanmu.
Palangka, 6 Jan 2010.
Anak desa yang dilahirkan dari keluarga petani. Menghabiskan masa kecil di desanya di lereng Gunung Lawu, yang sejuk. SD, SMP dan SMA dilaluinya di Kota Kecil Kabupaten Magetan, dan merupakan Alumni Program Study Agonomi Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman.
Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Januari 2010
Sabtu, 02 Januari 2010
MUSAFIR

Panas udara membuat baju ini basah. Ku langkahkan kaki diatas trotoar yang panas, diantara lalu lalang kendaraan bermotor. Tak tahu sudah bentuk muka ini. Aku baru merasakan menjadi seorang musafir yang tanpa arah, tak ada tempat berlindung yang aman dan nyaman untuk berlindung dari sengatan panas matahari sekalipun.
Tujuanku cuma satu, "Rumah Allah" di ujung jalan. Tempat yang selalu tersedia dan bebas untuk siapa saja, terutama untuk para musafir sepertiku, tanpa diminta pungutan untuk singgah disana.
Lantai teras kecoklatan, ku rasakan dingin diujung-ujung kaki. Ku bersandar pada tembok diujung teras. Tak ada satu pun orang yang peduli, hanya sesekali ada orang yang melihat penuh tanya.
Diujung teras ini kurasakan semilir angin, mengusir lelah seharian ini.
Hari ini ku temui 2 orang, satu menatap penuh curiga dan tak ramah sama sekali (mungkin bagian dari trik dan intrik) membuat aku tanya nyaman). Seorang lagi penuh semangat dan kemudian kecewa.
Bagiku apa yang telah terjadi, bagian dari perjalanan hidup yang perlu dimaknai dan tak perlu disesali, bila itu hal yang positif. Biarpun itu akan berbuah kegagalan.
Sayup-sayup puji-pujian mulai ku dengar dan harus ku habiskan waktuku beberapa jam lagi disini, sebelum kulangkahkan kai untuk pergi dan entah kapan bisa kembali lagi kesini.
Masjid AL-FALAH Sampit, 19 Desember 2009
Kamis, 03 Desember 2009
KEKALAHAN
Kekalahan sering dimaknai sebagai nista dan kegagalan, tanpa peduli lagi bahwa sang kalah juga telah banyak memberi inspirasi dan pelajaran atas apa yang dia yakini benar, perlu di perjuangkan dan menjadi tantangan.
Skema kekuasaan berbentuk piramida, semakin keatas semakin sedikit, tetapi sayang yang sedikit itu di rebutkan banyak orang. Selain mengantarkan penguasa baru, juga akan kehilangan yang kalah......(begitu kira2 kesimpulan tulisan yang aku baca tadi malam.
Sistem feodal masih mengakar di negeri ini, jarang ceritanya yang menang bisa mengambil pelajaran dari yang kalah, begitupula yang kalah sering malu dan tak mau mengakui kekalahannya. Kedewasaan berpikir hanya menjadi teori. Justru yang banyak terjadi yang kalah ditinggalkan banyak teman, kawan bahkan keluarganya sekalipun. Sungguh kasihan......
Hanya sedikit orang yang mungkin akan mau berteman dengan sang kalah. Itu yang manjadi sahabat sejati suka dan duka.
Dan aku lupa telah mengalaminya......
Skema kekuasaan berbentuk piramida, semakin keatas semakin sedikit, tetapi sayang yang sedikit itu di rebutkan banyak orang. Selain mengantarkan penguasa baru, juga akan kehilangan yang kalah......(begitu kira2 kesimpulan tulisan yang aku baca tadi malam.
Sistem feodal masih mengakar di negeri ini, jarang ceritanya yang menang bisa mengambil pelajaran dari yang kalah, begitupula yang kalah sering malu dan tak mau mengakui kekalahannya. Kedewasaan berpikir hanya menjadi teori. Justru yang banyak terjadi yang kalah ditinggalkan banyak teman, kawan bahkan keluarganya sekalipun. Sungguh kasihan......
Hanya sedikit orang yang mungkin akan mau berteman dengan sang kalah. Itu yang manjadi sahabat sejati suka dan duka.
Dan aku lupa telah mengalaminya......
Astagfirullah.....
Hari ini, mendapat sedikit pencerahan...
Setelah sehari kemarin menemui orang-orang yang aneh, menjijikkan dan ga tau malu. Status itu yang aku tulis di FB kemarin, dan tanggapannya beragam dari semua sahabat di FB baik yang kenal maupun kenal dari FB.
Pagi ini, sehabis mandi dapat telephon dari seorang sahabat. Pagi2 sudah dapat gosip & mengosipkan orang. Yang jelas orang kemarin yang ga punya malu ditambah orang baru yang lebih ga punya malu lagi. Ekpresiku pagi ini hanya heran dan ketawa.......ternyata dunia ini penuh dengan orang munafik.
Aku tak habis pikir (mungkin karena sebelumnya aku belum pernah lihat, atau lebih jelas kurang peka keadaan), ada orang yang seperti itu. Biasanya laporan yang dikirim ke pusat oke2 aja ga ada pernah komplen, tapi kemarin lain cerita, ada yang komplen tentang laporan. Aku kira aneh, karena biasa kita buat juga seperti itu. Efek ga dikasih oleh2 acara kemarin mungkin yang menjadi pemicu. Sejak awal aku tak terlalu respek dengan orang ini, ada gelagat tidak baik dari tindak tanduknya. Tapi apalah daya aku seoarang staf walaupun kadang juga orang dengar ideku. Kalau kali ini tak dapat oleh2 bukan karena ideku, lebih karena 2 minggu sebelumnya kami sudah kirim dalam acara yang berbeda. Masak baru 2 minggu udah minta lagi. Astagfirullah........Aku yang jadi tulang punggung disini, mau dimarahin orang, ditagih utang sampai dimintai sumbangan, lebaran tidak dapat sampain sebulan gaji........Aku belajar untuk ikhlas, walapun itu susah terkadang. Ada rasa tak terima karena semua itu tak adil. Tapi apalah artinya adil bagi orang yang tak mau mengerti.
Diluar dari bahasan diatas, ada satu hal lagi yang membuat aku ketawa heran, dari obrolanku dengan sahabatku pagi tadi, aku baru tahu ada orang dalam kantor yang main dibelakang layar, grusak-grusuk cari duit dengan minta2, walaupun mungkin dia ngomongnya tak mengatas namakan instansi tapi yang jelas secara langsung maupun tak langsung itu mencemarkan nama baik instansi.
Sehari sebelumnya kami sempat ngobrol tentang berbagai hal. Seakan dia paling benar, betul dan the best. Mungkim dia berprinsip MISI LEBIH PENTING DARI PADA GENGSI.
Aku jadi harus membuka hati untuk melihat warna dunia ini yang hitam putih, abu-abu maupun peach. Rasanya aku tak bisa terima tapi itu kenyataan didunia. Dua hari dapat pelajaran yang sangat berharga. Betapa banyak orang2 yang munafik didunia ini, sampai aku berpikir untuk pergi, bukan berati lari dari masalah, lebih karena aku tak mau dekat2 dengan orang munafik (takut ketularan), godaan setan terlalu berat. Sampai aku sadar dari pencerahan bapak Bambang Pujo (salah satu teman di FB), walaupun aku tak mengenalnya, nasehatnya bisa bikin aku bisa berucap Astagfirullah.
“Dalam hidup ini memang kita harus bisa menyesuaikan diri (dalam artian positif), karena Maha Pencipta telah menciptakan Alam semesta dgn hukumnya, ada positif ada negatif, ada baik ada buruk, ada wanita ada laki laki, sehingga diharapkan Alam ini menjadi balance, tetapi di dunia ini khan tidak abadi, Rasulullah pernah ... Lihat Selengkapnyamengingatkan kita tanda tanda akhir jaman, diantaranya bahwa keburukan lebih banyak mendominasi, banyak hal buruk dianggap baik, banyak hal bohong dianggap benar, bila kita perhatikan 100 hari belakangan ini di Indonesia, kita di suguhkan hal hal yang pernah diceritakan oleh rasul, mudah mudahan semuanya bukan seperti yang di ingatkan oleh rasul, tapi semuanya adalah Rahasia Allah,”.
Begitulah kira2 yang ditulisnya. Ini memang Takdir ALLAH, manusia tak bisa menghindarinya biarpun lari sampai keujung dunia sekalipun.
Aku coba belajar ikhlas dan peka dengan lingkungan. Aku tak suka kemunafikan, tapi aku sendiri tak bisa mengukur kapasitas diriku, munafik atau tidak orang lain yang bisa menilai.
Palangka, 2 Desember 2009
Setelah sehari kemarin menemui orang-orang yang aneh, menjijikkan dan ga tau malu. Status itu yang aku tulis di FB kemarin, dan tanggapannya beragam dari semua sahabat di FB baik yang kenal maupun kenal dari FB.
Pagi ini, sehabis mandi dapat telephon dari seorang sahabat. Pagi2 sudah dapat gosip & mengosipkan orang. Yang jelas orang kemarin yang ga punya malu ditambah orang baru yang lebih ga punya malu lagi. Ekpresiku pagi ini hanya heran dan ketawa.......ternyata dunia ini penuh dengan orang munafik.
Aku tak habis pikir (mungkin karena sebelumnya aku belum pernah lihat, atau lebih jelas kurang peka keadaan), ada orang yang seperti itu. Biasanya laporan yang dikirim ke pusat oke2 aja ga ada pernah komplen, tapi kemarin lain cerita, ada yang komplen tentang laporan. Aku kira aneh, karena biasa kita buat juga seperti itu. Efek ga dikasih oleh2 acara kemarin mungkin yang menjadi pemicu. Sejak awal aku tak terlalu respek dengan orang ini, ada gelagat tidak baik dari tindak tanduknya. Tapi apalah daya aku seoarang staf walaupun kadang juga orang dengar ideku. Kalau kali ini tak dapat oleh2 bukan karena ideku, lebih karena 2 minggu sebelumnya kami sudah kirim dalam acara yang berbeda. Masak baru 2 minggu udah minta lagi. Astagfirullah........Aku yang jadi tulang punggung disini, mau dimarahin orang, ditagih utang sampai dimintai sumbangan, lebaran tidak dapat sampain sebulan gaji........Aku belajar untuk ikhlas, walapun itu susah terkadang. Ada rasa tak terima karena semua itu tak adil. Tapi apalah artinya adil bagi orang yang tak mau mengerti.
Diluar dari bahasan diatas, ada satu hal lagi yang membuat aku ketawa heran, dari obrolanku dengan sahabatku pagi tadi, aku baru tahu ada orang dalam kantor yang main dibelakang layar, grusak-grusuk cari duit dengan minta2, walaupun mungkin dia ngomongnya tak mengatas namakan instansi tapi yang jelas secara langsung maupun tak langsung itu mencemarkan nama baik instansi.
Sehari sebelumnya kami sempat ngobrol tentang berbagai hal. Seakan dia paling benar, betul dan the best. Mungkim dia berprinsip MISI LEBIH PENTING DARI PADA GENGSI.
Aku jadi harus membuka hati untuk melihat warna dunia ini yang hitam putih, abu-abu maupun peach. Rasanya aku tak bisa terima tapi itu kenyataan didunia. Dua hari dapat pelajaran yang sangat berharga. Betapa banyak orang2 yang munafik didunia ini, sampai aku berpikir untuk pergi, bukan berati lari dari masalah, lebih karena aku tak mau dekat2 dengan orang munafik (takut ketularan), godaan setan terlalu berat. Sampai aku sadar dari pencerahan bapak Bambang Pujo (salah satu teman di FB), walaupun aku tak mengenalnya, nasehatnya bisa bikin aku bisa berucap Astagfirullah.
“Dalam hidup ini memang kita harus bisa menyesuaikan diri (dalam artian positif), karena Maha Pencipta telah menciptakan Alam semesta dgn hukumnya, ada positif ada negatif, ada baik ada buruk, ada wanita ada laki laki, sehingga diharapkan Alam ini menjadi balance, tetapi di dunia ini khan tidak abadi, Rasulullah pernah ... Lihat Selengkapnyamengingatkan kita tanda tanda akhir jaman, diantaranya bahwa keburukan lebih banyak mendominasi, banyak hal buruk dianggap baik, banyak hal bohong dianggap benar, bila kita perhatikan 100 hari belakangan ini di Indonesia, kita di suguhkan hal hal yang pernah diceritakan oleh rasul, mudah mudahan semuanya bukan seperti yang di ingatkan oleh rasul, tapi semuanya adalah Rahasia Allah,”.
Begitulah kira2 yang ditulisnya. Ini memang Takdir ALLAH, manusia tak bisa menghindarinya biarpun lari sampai keujung dunia sekalipun.
Aku coba belajar ikhlas dan peka dengan lingkungan. Aku tak suka kemunafikan, tapi aku sendiri tak bisa mengukur kapasitas diriku, munafik atau tidak orang lain yang bisa menilai.
Palangka, 2 Desember 2009
Jumat, 28 Agustus 2009
Barang Rongsokan Itu
Dulu waktu aku membelimu, jelas karena aku membutuhkanmu, sekarang setelah sekian lama ku pakai, kamu menjadi barang rongsokan yang nilai jualnya turun. Aku bingung…..mau ku kemanain barang rongsokan itu. Sebenarnya aku masih membutuhkanmu, tapi karena aku mau pergi, aku harus meninggalkanmu. Aku tak ingin membawamu ikut serta, bukan karena aku sudah melupakanmu, tapi karena aku memilih membawa barang rongsokan lain yang lebih ku butuhkan nanti disana.
Kalau aku buang dirimu ke tempat sampah, kamu akan bercampur barang-barang rongsokan lain yang bau dan akan menjadi polusi udara.Jika ada aktifis lingkungan yang melihat, pasti akan bilang itu pencemaran lingkungan, padahal kamu tak mudah untuk didaur ulang.Jika aku kasihkan orang, adakah yang mau menerimamu???Karena kamu hanya barang rongsokan.
Aku berharap ada tuan yang baik yang mau memeliharamu, agar kamu tak sia-sia dan aku yakin masih ada orang itu, walaupun itu orang-orang dibawah jembatan. Kamu jangan pernah berpikir turun kelas, karena semua itu tak ada. Kamu akan lebih berharga jika kamu bersama orang-orang dibawah jembatan itu dari pada kamu tinggal bersama orang-orang konglomerat.
Kalau aku buang dirimu ke tempat sampah, kamu akan bercampur barang-barang rongsokan lain yang bau dan akan menjadi polusi udara.Jika ada aktifis lingkungan yang melihat, pasti akan bilang itu pencemaran lingkungan, padahal kamu tak mudah untuk didaur ulang.Jika aku kasihkan orang, adakah yang mau menerimamu???Karena kamu hanya barang rongsokan.
Aku berharap ada tuan yang baik yang mau memeliharamu, agar kamu tak sia-sia dan aku yakin masih ada orang itu, walaupun itu orang-orang dibawah jembatan. Kamu jangan pernah berpikir turun kelas, karena semua itu tak ada. Kamu akan lebih berharga jika kamu bersama orang-orang dibawah jembatan itu dari pada kamu tinggal bersama orang-orang konglomerat.
Langganan:
Postingan (Atom)