Senin, 08 Februari 2010

Bocah Kecil

Bocah kecil berkulit hitam manis, berambut pendek sebahu, berponi tipis dan membawal tas berwarna hijau muda, usianya sekitar sepuluh tahun tak lebih. Kelihatannya bukan anak jalanan, pakainanya pun rapi. Dua hari ini selalu kutemui di halte saat pulang.

Anaknya pun sopan.

”Termisi tante”
”Mama, saya sedang sakit, trus tidak punya uang buat beli obat”
”Tante bisa ga pinjamin uang??”, katanya datar.

Sesampai dirumah masih terbayang  wajahnya yang penuh keringat, biar begitu tak tampak rasa menyerah di raut mukanya.

Awalnya tak terlalu ku hiraukan kehadirannya. Tapi setelah dua hari berturut – turut terpikiran juga.
Terbayang oleh ku suatu reality show di TV yang mencari orang yang mau membantu dan dapat uang.
Ah....mungkin aku terlalu terillusi dari acara TV, toh...juga bukan.
Batin ku berguman, kenapa sakit ga ke puskesmas aja toh juga ga bayar???
Aku memang tak sampai hati menanyakan itu, melihat wajahnya yang polos.

Kenapa sampai hati ibunya (orang tuanya) menyuruh anaknya yang seharusnya bisa belajar dan bermain untuk meminta – minta di pinggir jalan biarpun dengan segala keterbatasan orang tuanya.

Masih teringat, gadis – gadis kecil yang dulu suka minta – minta dikampus. Hampir tiap hari dia datang, kalau tidak pagi ya sore atau kadang bisa dua kali sehari. Suatu hari kami melihatnya membeli baju di Mall.

Aku tak bisa memahami pola pikirnya, hanya bisa menerka, mungkin dia juga ingin mengikuti trend baju para selebritis yang dilihatnya di TV.  Mereka tak bisa disalahkan biarpun itu membuat sebagian orang tidak nyaman. Hasrat alamiah untuk selalu mengisi perut dan tampil modis. Kalaupun dia harus meminta – minta, karena memang belum sepantasnya dia bekerja. Yang disayangkan adalah orang yang membuat, mengajari, menyuruh mereka untuk menjadi peminta – minta. Mungkin ini karena mereka belum terlalu ”besar” disuruh meminta – minta, akan lebih menyedihkan kalau setelah dewasa mereka disuruh menjadi ”PSK”.

Aku akan selalu berpendapat, masih ada pekerjaan yang lebih baik dari pada menjadi peminta – minta, biarpun itu menjadi pemulung sampah. Dan aku berpendapat, biarpun keterbatasan keluarga karena kemiskinan akan lebih baik kalau anak mereka diajari memulung dari pada menjadi peminta – minta, menjajakan koran atau menjual cobek. Itu bisa menjadi bekal kemandirian kelak saat mereka dewasa.


Sangat tidak adil, jika anak – anak kecil disuruh bekerja sedangkan orang tuanya menggantungkan hidupnya dari anaknya.  Hak dari anak – anak untuk mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari orang tuanya selain juga  pelajaran yang baik. Alasan kemiskinan dan keadaan untuk mengekploitasi anak untuk bekerja sangat tak dimasuk akal. Toh....anak – anak juga tak minta dibuat ataupun dilahirkan. Kalau memang tak sanggup secara ekonomi, mungkin sebaiknya STOP membuat anak.

Tiga juta anak – anak yang sudah terlanjur menjadi anak jalanan yang perlu menjadi perhatian, terutama masalah pendidikannya.  Aku bisa bayangkan sulit untuk bisa merubah/mengatur 3 juta anak, apalagi yang telah hidup dijalanan. Pola pikirnya yang sudah terlanjur terbentuk, akan susah untuk merubahnya. Pikirnya yang ingin ”bebas”, tetapi mereka tak mau tahu bahwa kehidupan jalanan akan mendekatkan mereka pada sindikat penjualan anak (trafcking), kurir narkoba, sampai kekerasan seksual.

Kasus Century yang terus bergulir, dimana negara harus mengeluarkan 6,7 trilyun untuk menyelamatkan bank, padahal uangnya sendiri di "rampok" oleh pemiliknya sendiri, yang notabene seorang konglomerat atau uang milyaran rupiah untuk mobil - mobil baru para pejabat negara. Jika uang sebanyak itu dipake untuk membuat rusun atau untuk pendidikan anak - anak jalanan, berapa banyak gelandangan yang bisa ditampung dan berapa banyak anak - anak bisa bersekolah dengan layak. Tapi itulah negaraku tercinta, pejabatku yang katanya abdi masyarakat, tak punya skala prioritas yang lebih utama.


Palangka, 4 Februari 2010

Tidak ada komentar: